Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Arti Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber, salah satunya ialah pengertian dan arti K3 menurut Filosofi, menurut Ilmuan dan menurut standard OHSAS 18001 : 2007. Berikut adalah pengertian dan arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) itu :

· Filosofi (Mangkunegara) :

Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani ataupun rohani tenaga kerja terutama dan manusia pada umumnya dan hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

· Ilmuan :

Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

· OHSAS 18001 : 2007 :

Semua kondisi dan aspek yang bisa berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja ataupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) ditempat kerja.

Pengertian/arti K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) diatas ialah pengertian/arti K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan, tetapi diluar referensi diatas masih banyak referensi tentang pengertian/arti K3 baik menurut ILO maupun OSHA tetapi tidak kami bahas dalam artikel ini sehingga bisa didapatkan melalui penelusuran di mesin pencarian internet.

Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum pelaksanaan. Salah satunya ialah Undang-Undang No 1 Tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja, Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 mengenai Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Rangkuman beberapa dasar hukum itu diantaranya :

UU No 1 Tahun 1970 Mengenai Keselamatan Kerja :

  1. Tempat di mana dilakukan pekerjaan untuk suatu usaha.
  2. Adanya tenaga kerja yang bekerja disana.
  3. Adanya bahaya kerja ditempat itu.

Pemerintah ketenaga kerjaan No 5 Tahun 1996 Mengenai Sistem Manajemen K3 :

Setiap perusahaan yang memiliki karyawan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik sistem atau bahan produksi yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

Pemerintah ketenaga kerjaan No 4 Tahun 1987 Mengenai Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) :

  • Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memiliki karyawan 100 orang atau lebih.
  • Tempat kerja dimana pengusaha memiliki karyawan kurang dari seratus orang namun menggunakan bahan, sistem dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.

Tujuan Penerapan K3

Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja yaitu diantaranya :

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efektif.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Dari melihat tujuan penerapan K3 ditempat kerja berdasarkan Undang-Undang nomor 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja diatas terdapat harmoni tentang penerapan K3 ditempat kerja antara Pengusaha, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara. Sehingga di masa mendatang, baik dalam waktu dekat maupun nanti, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat dilaksanakan secara nasional menyeluruh dari Sabang sampai Meraoke. Seluruh masyarakat Indonesia sadar dan paham betul tentang pentingnya K3 sehingga dapat melaksanakannya dalam kegiatan sehari-hari baik ditempat kerja ataupun di lingkungan tempat tinggal.

Arti Bahaya dan 5 Faktor Bahaya K3 di Tempat Kerja

Pengertian (arti) bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) – arti berdasarkan OHSAS 18001 : 2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 ditempat kerja, diantaranya : aspek bahaya pikiran (s), aspek bahaya kimia, aspek bahaya fisik/mekanik, aspek bahaya biomekanik dan aspek bahaya sosial-psikologis. Tabel dibawah merupakan daftar singkat bahaya dari sebagian aspek bahaya diatas :

Penilaian yang valid telah di buat mengenai resiko dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan ; memastikan kalau langkah-langkah pencegahan dan metode produksi, yang dianggap perlu dan dilaksanakan setelah penilaian resiko, memberikan perlindung kepada para pekerja seperti sepatu safety dan lainnya, memberikan peningkatan dalam perlindungan pekerja.

Tips Keselamatan Pada Pengelasan

Pekerjaan atau pengelasan saat ini bukan pekerjaan yang asing. Dirumah maupun di lingkungan tempat kita tinggal hasil pekerjaan las selalu terlihat oleh kita, mulai dari pintu, pagar, teralis jendela, serta perabot rumah tinggal. Walau sebenarnya ada bahaya tersembunyi dalam pekerjaan las itu.

A. Penanganan dan Penyimpanan Botol-Botol Gas

Banyak pekerjaan pengelasan menggunakan bahan bakar gas dan ada bahaya api dan ledakan yang mengintai.
Beberapa hal yang perlu di perhatikan :

  • Pastikan dan perhatikan label pada pada gas sebelum digunakan. Jangan terlalu yakin kalau botol gas yang akan digunakan berisi oksigen (O2), karena ada resiko isinya berbeda.
    bila memindahkan botol, harus tetap berdiri tegak dan tutup pengaman kepala botol selalu terpasang. Baiknya memakai kereta botol gas.
  • Gunakan gas dan botol yang asli dari pabrik pemasok. Bila botol sudah kosong, tutuplah keran, lepaskan regulator dan gunakan kembali tutup pengaman botol, dan beri tanda kalau botol sudah kosong.
  • Sebelum memindahkan atau menyimpan botol gas setelah selesai bekerja, kosongkan sisa gas pada selang penyalur dan petunjuk tekanan harus menunjukkan angka nol. Seleai bekerja tutuplah kran sampai rapat dan jangan lupa tutup pengaman kepala botol harus dipasang.
  • Botol yang masih terisi dan yang kosong harus disimpan terpisah. Jangan menyimpan botol gas oksigen (O2) dekat dengan botol gas Acetylene dan LPG.
  • Simpan botol dengan aman dari benturan, terpisah dan terlindung dari sinar matahari langsung, hujan, sumber-sumber panas juga dari kemungkinan kebocoran arus listrik dari kabel listrik.

B. Ledakan dan Kebakaran

Tata tertib yang baik di ruang kerja sangat membantu dalam mencegah terjadinya api dan ledakan. Tempat kerja arus selalu bersih, rapi, dan bebas dari beberapa bahan yan mudah terbakar dan meledak. Bila mengelas di tempat yang tinggi, gunakanlah sekat api yang terbuat dari seng atau gorden yang tahan api untuk mencegah menyebarnya bara api yang jatuh. Lantai yang retak, berlubang, atau bercelah harus segera ditutup untuk mencegah masuknya percikan bunga api dan metal menyala.

Banyak luka bakar kecil terjadi akibat tidak dipakainya alat pelindung diri maupun memakai pelindung diri namun tidak benar/tepat untuk mencegah luka bakar pada lengan, palailah sarung tangan las yang sesuai dan lengan baju kerja jangan digulung. Berilah tanda ‘ Panas ’ atau berikan tutup ataupun pelindung benda kerja yang baru dilas, agar tidak dipegang atau tersentuh oleh pekerja lain.

C. Sengatan Arus Listrik

Serangan arus listrik biasanya berasal dari kabel yang isolasinya rusak/sobek, sambungan yang tidak terisolasi dengan baik, atau akibat pembumian/arde perlengkapan yg tidak berfungsi dengan baik. Sarung tangan dan baju kerja yang basah atau lembab, lantai yang basah, dan udara lembab juga jadi penyebab sengatan arus listrik.

Untuk mengurangi resiko sengatan listrik saat mengelas pada lantai kerja dari pelat baja, gunakan karpet atau alas kaki seperti sepatu safety yang bersifat isolator. Gunakanlah sarung tangan karet sebelum memakai sarung tangan kulit bila bekerja pada kondisi basah dan lembab, juga bila saat tangan anda berkeringat karena panas. Bila ada yang tekena sengatan listrik, selekasnya matikan sumber listrik. Periksa denyut nadi, apabila tidak terasa, berikan pernafasan buatan dan segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat. Bila korban sadar, bawa ke tempat yang sejuk. Berikan ia air minum dan selekasnya bawa ke dokter.

D. Pelindungan Diri Untuk Pekerjaan Las

Pekerjaan las harus memerhatikan semua bahaya yang bersumber dari cahaya/sinar ketika pengelasan baik sinar yang terlihat dan sinar yg tidak terlihat. Tindakan keselamatan khusus diperlukan untuk pengelasan yang memakai sinar laser, pengelasan Argon, dan lain-lain. Las laser dan las Argon sinarnya sangat terfokus dengan kuat cahaya yang tinggi, dan hal semacam ini dapat mengakibatkan penglihatan terganggu. Terlebih bila terpapar cahaya lansung dapat membuat mata perih dan kadangkala bisa menyebabkan ‘Buta sesaat ’ bila mata terkena sinar las dalam waktu yang tertentu. Sinar yang tampak yang biasanya dipantulkan oleh dinding atau permukaan yang licin/mengkilat dapat membuat mata sakit untuk mereka yg tidak memakai kacamata pelindung las.

Sinar lain yang membahayakan yang berasal dari pengelasan yaitu sinar yg tidak dapat dilihat atau tidak terlihat dan tidak kita rasakan yaitu :

1. Sinar Inframerah dan Sinar Ultraviolet.

Sinar inframerah yaitu sinar yang membuat rasa panas. Bila pekerja terpapar sinar ini ia akan merasakan perubahan temperatur pada kulitnya. Bila mata terkena radiasi sinar inframerah tanpa pelindung yang memadai, bisa mempercepat timbulnya katarak yang mengakibatkan kebutaan karena terjadi lapisan keruh yang menutup lensa mata.

Sinar ultraviolet mengakibatkan mata silau. Bila mata mulai sensitif terhadap cahaya maupun berair dan mata perih seperti ada pasir di mata, yaitu tanda-tanda terpapar sinar ultraviolet. Mata harus diistirahatkan, kompres dengan air dingin atau es, dan segera ke dokter mata.

2. Sinar X (rontgen) ada sinar yang tidak kasat mata (tidak terlihat).

Sinar ini dibuat oleh cahaya elektron pengelasan dan sinar ini sering digunakan untuk memeriksa/menguji mutu hash pengelasan. Menyekat lokasi pengelasan sangat penting untuk mencegah radiasi terhadap pekerja lain.

Untuk melindungi mata dari bahaya bebrapa sinar diatas, memakai masker las sangat mutlak perlu. Jendela kaca pada masker di buka hanya saat memeriksa hasil las, selain itu harus tertutup saat mengelas. Bila mengelas diarea terbuka, orang-orang di sekitar tempat kerja sebaiknya juga memakai kacamata pelindung, dan tempat kerja las disekat.

3. Debu, Asap dan Gas-gas

Asap, debu, dan gas-gas berbahaya berasal dari logam dasar dan bahan tambahan yang digunakan, bahan pelapis, pelapis kawat las, juga berasal dari reaksi akibat sistem pengelasan. Demam karena uap logam disebabkan oleh menghirup asap yang dibuat dari pengelasan benda kerja yang digalvanis (dilapisi dengan timah).

Partikel-partikel bereaksi di paru-paru dan membuat pekerja yang menghirupnya merasa sakit beberapa jam setelah terpapar gas-gas yang dibuat dari pengelasan dan dapat menyebabkan sakit paru-paru, diantaranya paru-paru basah dan bronkhitis. Bahaya keracunan seperti di atas dapat dihindari bila pekerja pasang ventilasi buatan.

Bahaya yang berasal dari penggunaan bahan-bahan pelarut (solvent) juga harus di perhatikan. Bersihkan bahan/benda kerja yang akan di las dari sisa-sisa bahan yang memiliki kandungan minyak, resin, cat dan sebagainya yang melekat, sebelum mulai mengelas, karena pemanasan sisa-sisa bahan-bahan itu akibat api las akan menghasilkan uap yang beracun.

Pekerja juga harus waspada terhadap uap yang berasal dari bahan pelarut yang memiliki kandungan klor (Chlorinated solvent) yang tidak boleh terpapar sinar ultra violet, karena dapat menghasilkan gas yang mematikan. Simpan dan pisahkan bahan-bahan pelarut ditempat terpisah dan jangan memakai pelarut untuk membersihkan benda kerja yang akan di las.

Tips Mencegah Kebiasaan Bekerja Tidak Aman

Kegiatan tambang termasuk kegiatan yang memiliki resiko kecelakaan tinggi. Kecelakaan tersebut menyebabkan penderitaan untuk para pekerja itu ataupun orang lain. Apabila diliat dari beberapa faktor kecelakaan maka faktor manusia yaitu merupakan persentasi yang tertinggi dari factor penyebab kecelakaan. Mengenai faktor manusia tersebut tidak terlepas dari kebiasaan pada diri manusia dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Namun apabila dilihat dari kebiasaan pada manusia memiliki kecenderungan kebiasaan yang buruk dalam bekerja.

Di sini ada beberapa contoh kebiasaan – kebiasaan yang buruk ketika melakukan sesuatu pekerjaan yang perlu dihindari :

Bekerja dengan tergesa-gesa diantaranya :

  • Menjalankan kendaraan dengan kecepatan yang melebihi batas yang diijinkan. (60 km/jam untuk roda empat dan 50km/jam untuk kendaraan roda enam keatas dan 40km/jam untuk semua unit didaerah tambang).
  • Tidak memasang rambu ketika kendaraan mogok dijalanan (segitiga pengaman) dan tidak mengganjal dan memposisikan kendaraan dengan benar pada saat melakukan penggantian ban.
  • Membiarkan oli berceceran dilantai disekitar bengkel tempat kerja.
  • Tidak memakai perkakas yang semestinya, malas mencari, lalu menggunakan beragam alasan kenapa tidak menggunakan perkakas yang semestinya.
  • Tidak merapikan meja kerja saat pulang, dengan alasan terburu-buru agar tidak ketinggalan bus, bahkan sampai lupa mematikan mesin computer. dll

Kebiasaan melakukan sesuatu yang tidak diperlukan ketika bekerja yaitu minum minuman keras di tempat kerja. Hal itu akan mengganggu aktivitas kerja dan tidak aman apabila bekerja lalu mengendarai mobil. Karenanya perlu diingat yaitu Jangan mengemudikan kendaraan setelah minum minuman keras/dalam kondisi mabuk dimanapun dan kapanpun untuk keselamatan anda.

Kebiasaan buruk lainnya yaitu merokok ditempat yang dilarang untuk merokok, bahkan diruang AC meskipun, karena mereka merasa itu ruangan pribadinya.

Di bawah ini perlu diberitahukan beberapa potensi – potensi bahaya dan cara – cara kerja yang aman dalam melindungi karyawan dan perlengkapan.

A. Potensi Bahaya :

  • Debu akibat proses Crushing Plant.
  • Kebisingan akibat opreasional perlengkapan.
  • Getaran akibat perlengkapan dan peledakan.

Cara kerja yang aman :
Setiap pekerja harus dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri sesuai jenis dan keperluan yang digunakan. Alat Pelindung Diri yang dimaksud diantaranya, Dust masker, ear plug, kaca mata, helmet, sepatu safety, sarung tangan, rompi pelampung, dan sebagainya.

B. Potensi Bahaya :

  • Bagian – bagian dari alat – alat yang berputar (mesin).
  • Bagian – bagian dari alat yang bergerak.

Cara kerja yang aman :
Sebelum bekerja harus memeriksa dan meyakinkan kalau pagar – pagar pengaman dari alat – alat yang berputar ataupun alat – alat yang bergerak harus terpasang dengan baik.

Salah satu cara untuk menanamkan sikap kesadaran pekerja dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu selalu mengingatkan setiap saat jika yang bersangkutan melakukan kebiasaan yang tidak baik. Harus secara berkala diadakan pelatihan – pelatihan untuk pekerja, sehingga diharapkan dalam latihan kerja akan tebentuk perilaku atau kebiasaan yang baik dalam bekerja dan sekaligus Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat menjadi budaya kita sehari – hari terutama budaya kerja.

Kecelakaan Proyek dan Cara Mencegahnya

Kecelakaan proyek dalam proses pembangunan dapat menghambat jalannya pekerjaan oleh karenanya diperlukan upaya untuk mengatasinya sehingga beberapa hal yang tidak diinginkan dapat dicegah dan dapat melakukan respon pertolongan pertama secara cepat ketika kecelakaan terjadi. Penggunaan alat pengaman diperlukan, penyuluhan kepada pekerja bangunan harus dilakukan sesering mungkin sehingga selalu ingat untuk mencegah terjadinya kecelakaan, obat-obatan sebagai pertolongan pertama perlu disiapkan pada lokasi yang rawan terjadi kecelakaan ringan ataupun berat. Dalam pembangunan proyek besar dapat ditugaskan secara khusus personil yang betugas memanajemen kecelakaan kerja ini dari mulai pembuatan data-data perkiraan kecelakaan yang mungkin terjadi pada setiap item pekerjaan dan bagaimana cara mencegah dan mengatasi kecelakaan itu.

Cara mencegah terjadinya kecelakaan pada proyek bangunan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang diantaranya yaitu sebagai berikut

  • Buat daftar resiko kecelakaan yang mungkin terjadi disetiap item pekerjaan misalnya pada pekerjaan galian tanah akan memungkinkan terjadi kelongsoran tanah, pekerja yang mengangkat alat berat bisa menggunakan sepatu safety sebagai perlindungan kerja, pekerja terkena cangkul, sehingga di ketahui upaya mencegahya seperti pembuatan tembok sementara dari bamboo untuk menahan tanah dan memasang rambu-rambu hat-hati pada tempat galian tanah.
  • Melakukan penyuluhan kepada pekerja dengan cara membuat jadwal sebelumnya seperti waktu pagi hari sebelum bekerja dapat dibunyikan suara speaker “Selamat bekerja, gunakan alat pelindung diri, hat-hati dalam bekerja karena keluarga menunggu dirumah” atau kalimat lain yang bisa mengingatkan setiap pekerja proyek untuk waspada dalam bekerja.
  • Buat rambu-rambu kecelakaan kerja, memasang pagar pengaman pada void yang memungkinkan adanya resiko jatuh, memasang tabung pemadam kebakaran pada area rawan kebakaran.
  • Menjaga kebersihan proyek dapat membuat lingkungan kerja nyaman sehingga emosi negative yang mungkin timbul saat bekerja dapat dikurangi karena hal itu dapat mengakibatkan kecelakaan proyek akibat fikiran sedang tidak fokus terhadap pekerjaan.
  • Menjalin kerjasama dengan pelayan kesehatan atau rumah sakit terdekat dari tempat proyek sehingga setiap saat terjadi kecelakaan dapat ditangani dengan cara cepat untuk mencegah beberapa hal selanjutnya yang tidak diinginkan.

Penyediaan perangkat pengaman kecelakaan kerja dari meluai personil sampai perlengkapan mungkin terlihat mahal tetapi biaya itu akan lebih murah bila tidak mengadakanya sehingga terjadi kecelakaan hingga dapat menghentikan jalanya pekerjaan atau pengalihan aktifitas pekerjaan pada upaya menyelamatkan korban kecelakaan.

Langkah Bekerja Aman dengan Peralatan Listrik

Keselamatan kerja sangat penting apalagi bila anda bekerja dengan sebagian perlengkapan listrik terlebih dengan kapasitas yang besar. Berikut adalah tips keselamatan kerja dengan perlengkapan listrik untuk menghindari kecelakaan dan resiko kerja lainnya.

Fokus

Bekerja dengan konsentrasi dan tenang. Pusatkan fikiran anda hanya untuk pekerjaan saja. Selain itu, kenali perlengkapan listrik di sekitar lingkungan kerja anda. Jangan gunakan perlengkapan listrik atau tekanan udara apabila anda belum paham karena akan membahayakan jiwa anda. Janganlah juga meraba-raba perlengkapan yang menggunakan tegangan listrik. Ketahui perlengkapan dengan melihat prosedur penggunaan.

Bekerja dengan satu tangan

Bila anda bekerja dengan perlengkapan listrik, upayakan untuk menggunakan satu tangan dengan tangan yang lain masuk kedalam saku anda. Hal semacam ini guna menghindari bila terjadi aliran listrik pada tangan kanan maka aliran listrik itu tidak akan mengalir ke tangan kiri dan melewati jantung sehingga bisa memperkecil resiko yang semakin besar.

Gunakan alat pelindung

Alat pelindung yaitu penting agar tidak terjadi kecelakaan. Gunakan alat pelindung sesuai dengan ketentuan perusahaan anda seperti penggunaan pakaian keselamatan, sepatu safety dan jangan sekali-sekali menganggap ini bukan hal yang penting. Upayakan juga untuk tidak bekerja seorang diri, hal semacam ini berguna bila ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi akan ada orang yang siap untuk menolong maupun memperingatkan anda.

Pastikan perlengkapan bekerja baik

Periksa dan pastikan perlengkapan listrik itu bekerja dengan baik sebelum anda gunakan. Rawat perlengkapan berkerja anda dan periksa adakah kabel yang mengelupas yang akan menyebabkan hubungan pendek atau korslet maupun kebakaran. Janganlah menarik-narik kabel listrik karena ini akan menyebabkan serabut kawat terputus.

Waspada

Jangan perbaiki perlengkapan listrik yang masih bertegangan dan jangan gunakan perlengkapan listrik dengan perlengkapan yang mudah terbakar. Jangan lakukan kelalaian dalam bekerja sehingga anda harus waspada. Mempelajari artikel-artikel mengenai keselamatan kerja maupun mengikuti training program ahli K3 akan sangat membantu untuk informasi lebih lanjut tentang keselamatan kerja.

Contoh Briefing Keselamatan Kerja

Perusahaan yang besar, resiko terjadi masalah dalam bekerja tentu cukup besar juga. Bagi Anda yang pernah bekerja di perusahaan pertambangan, tentu tidak asing dengan istilah induksi safety (safety induction).

Safety Induction yaitu pengenalan beberapa dasar Keselamatan kerja dan Kesehatan Kerja (K3) dengan cara briefing langsung kepada karyawan baru atau pengunjung (tamu) dan dilakukan oleh karyawan dengan jabatan setingkat supervisory (dari divisi OSHE/Safety) dan juga bisa dilakukan oleh yang memahami mengenai K3 dengan level jabatan minimum seperti tersebut diatas (minimal Foreman, dan supervisor up).

Mengenai Induksi Bertujuan :

  • Memberikan pemahaman mengenai pentingnya K3 didalam pertambangan.
  • Memberikan informasi terbaru mengenai kondisi dalam tambang sebab kondisi dalam tambang bisa berubah setiap hari.
  • Memberikan pemahaman mengenai ketentuan yang berlaku dan sanksi apa yang diberikan bila melanggar ketentuan di perusahaan tambang itu.
  • Memberikan informasi mengenai prosedur kerja yang ada di wilayah pertambangan itu.
  • Intinya induksi safety dilakukan untuk menghindarkan seseorang dari kecelakan saat memasuki lokasi pertambangan.

Siapa Sajakah Yang Berhak Mendapatkan Induksi Safety.

  • Karyawan baru di suatu perusahaan tambang, karena biasanya karyawan baru sama sekali belum mengetahui kondisi dalam tambang, meskipun karyawan baru ini sudah memiliki pengalaman di tambang lainnya, tetap harus diberi induksi saat berada di perusahaan baru.
  • Seseorang bukan karyawan yang mendapat ijin untuk memasuki lokasi pertambangan, maka sebelumnya harus diberikan induksi terlebih dulu.
  • Karyawan yang baru selesai dari cuti kerja. Walupun sudah lama menjadi karyawan di perusahaan itu, karyawan ini harus tetap diberi induksi safety setelah dia kembali dari cuti kerjanya. Hal semacam ini dilakukan karena kondisi dalam tambang sudah banyak berubah (seperti arah jalan tambang) selama dia pulang cuti.

Safety induksi biasa dilakukan ketika karyawan baru akan mengurus Kimper atau Mine Permit (Sejenis ID Card) baru di perusahaan itu. Kimper sendiri diperuntukkan untuk karyawan yang nantinya akan diberikan ijin untuk mengendarai unit atau alat berat (sesuai dengan SIM dan keahlian karyawan itu mengemudi) di area pertambangan (Operator, Driver DumpTruck, Foreman, supervisor up, dan lain-lain).

Sedangkan Mine permit ditujukan untuk karyawan umumnya. Karyawan yang memiliki mine permit tetapi tidak memiliki kimper tetap tidak diijinkan mengendarai unit atau alat berat sendiri (staff kantor, adm, dan lain-lain). Selama Karyawan baru belum mendapatkan Kimper atau Mine Permit, karyawan itu akan diberikan ID Card Pengunjung dan masih belum dibolehkan mengendarai unit di area pertambangan.

Selain itu Induksi saftey juga dilakukan kepada pengunjung atau tamu dari luar (bukan karyawan) yang akan memasuki lokasi pertambangan. Hal semacam ini dilakukan agar tamu tamu itu memahami kondisi tambang yang ada dan diwajibkan mematuhi segala peraturan yang berlaku dalam tambang. Untuk membuktikan kalau pengunjung sudah mendapatkan induksi, maka Dept Safety (OSHE Dept) meminjamkan ID Card Pengunjung kepada pengunjung itu dan harus mengembalikannya setelah keperluannya selesai.

Keuntungan Dari Induksi Safety.

  • Seseorang lebih memahami mengenai pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) saat berada di lokasi pertambangan.
  • Mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi dalam tambang.
  • Lebih memahami potensi bahaya yang mungkin terjadi didalam lokasi tambang dan mengerti bagaimana cara mengatasinya.
  • Meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan saat berada dalam lokasi pertambangan, misalnya dengan menggunakan alat pelindung seperti sepatu safety dan sebagainya.
  • Dan beberapa keuntungan lainnya yang mungkin belum di ketahui.

Apa pun bidang pekerjaan yang kita jalani saat ini sangat penting untuk memahami pekerjaan itu. Dengan begitu kita bisa memahami potensi-potensi bahaya apa sajakah yang mungkin ditimbulkan dari pekerjaan kita. Bila kita tahu itu semua, maka kita bisa meminimalisir bahkan menghilangkan potensi bahaya yang ada dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetaplah bekerja dengan selamat, sehat, dan aman.

Mengenal Jenis dan Fungsi Sepatu Safety

Salah satu perlengkapan alat pelindung diri (APD) didunia kerja terlebih pada bidang pekerjaan yang memiliki resiko di bagian kaki yaitu dengan menggunakan sepatu khusus yang biasa orang menyebutnya dengan sepatu safety atau safety shoes.

Sepatu pengaman atau safety shoes merupakan salah satu Alat Pelindung Diri (APD) yang wajib diberikan oleh perusahaan untuk pada pekerjanya untuk menciptakan Kesehatan dan Keamanan Kerja (K3). Beragam safety shoes dibuat untuk memenuhi kebutuhan pekerja sesuai dengan bidang pekerjaannya. Beda jenis pekerjaan, pastinya beda juga safety shoes yang digunakan.

Semua safety shoes harus memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI), dan lulus uji. Walaupun memiliki kemampuan yang berbeda-beda dengan material yang berbeda, tetapi setiap safety shoes harus tahan terhadap minyak dan antislip. Lalu apa sajakah kegunaan lain yang dimiliki oleh setiap safety shoes? Jawabannya beraneka ragam.

  1. Mengurangi dampak luka bakar pada kaki ketika terkena api atau panas. Oleh sebab itu Sepatu Safety terbuat dari kulit asli yang tahan api pada suhu tinggi.
  2. Mengurangi dampak terlukannya jari-jari kaki dari, Hantaman, Gesekan, Tusukan, dan jatuhan benda yang keras dan berat. Oleh karenanya Sepatu Safety dibagian depan diperlengkapi dengan pelindung yang terbuat dari lempeng baja.
  3. Mencegah terjadinya Slip saat melalui medan yang licin. Oleh karenanya di bagian sol terbuat dari komponen yang oil Resistance.
  4. Tali Pengaman yang kuat mengurangi dampak terlepasnya sepatu dari kaki si pengguna. Oleh karenanya sepatu safety menggunakan tali pengikat dari bahan yang tidak mudah putus dan kuat, dan menggunakan resleting.

Bagian pelindung jari kaki, terbuat dari cungkup baja yang mampu menahan beban s/d 200 Joules, misalnya untuk melindungi jari kaki dari benda jatuh, atau terantuk benda keras. Untuk kenyamanan pelindung baja ini dilapisi lagi dengan lapisan kulit lembut sehingga mengurangi kemungkinan lecet-lecet.

Bagian pelindung telapak kaki, terdiri dari lapisan sol luar, biasanya terbuat dari karet tebal yang dilapisi lagi dengan lapisan karet khusus anti slip, anti bahan kimia atau anti static. Lapisan Sol bagian bawah ini sangat kuat dan dapat membuat perlindungan telapak kaki dari bahaya tertusuk benda tajam, seperti paku, skrup, batu-batu, dan lain-lain. Selain itu dengan adanya lapisan anti slip membuat perlindungan pengguna dari bahaya terpeleset pada permukaan yang licin. Di bagian dalam dilapisi sol yang berfungsi meredam getaran, dan biasanya memiliki kemampuan menyerap keringat yang baik.

Pelindung tumit, terbuat dari karet atau kulit yang biasanya dijahit rangkap sehingga lebih tebal dari di bagian atas sepatu untuk perlindungan lebih dan kenyamanan. Bagian ini ditujukan membuat perlindungan tumit dari bahaya terbentur benda keras yang berada dibelakang pengguna.

Pelindung engkel atau pergelangan kaki, ada beberapa macam model yang menawarkan perlindungan yang berbeda terhadap pergelangan kaki. Misalnya : model potongan rendah, model tanggung, dan model potongan tinggi.

Model Potongan Tinggi

Didesain untuk memberi perlindungan maksimal terhadap kaki pengguna, sebagai jawaban dari kebutuhan daerah operasi pertambangan, pengeboran minyak dan lain-lain.

Model Potongan Medium

Didesain untuk memberikan perlindungan terlebih di bagian pergelangan/angkle dan bagian bawah kaki. Biasanya digunakan diarea konstruksi terbatas, workshop, warehouse, dan beberapa operator alat berat

Model Potongan rendah

Memprioritaskan perlindungan di bagian bawah kaki, biasanya digunakan di area kantor proyek, pergudangan, dan workshop terbatas. Belakangan ini banyak juga yang menggunakan sepatu safety model ini untuk keperluan sehari-hari terlebih para motoris dengan alasan kepraktisan dan memberi perlindungan dari bahaya terlindas atau terinjak saat mengantri dikepadatan lalulintas perkotaan.

Memilih Sepatu Safety yang tepat Berdasarkan penggunaan.

  • Kantor proyek, pergudangan, bengkel : di mana proteksi lebih diutamakan pada bahaya terantuk, terpeleset ceceran oli, tertusuk benda-benda kecil, seperti paku, scrap, sementara fleksibilitas, mobilitas untuk keluar masuk area masih cukup tinggi, penggunaan sepatu safety model potongan rendah yaitu yang terbaik, model medium/tanggung masih memungkinkan untuk pekerja yang waktu kerjanya sebagian besar berada di area pergudangan atau bengkel.
  • Pekerja lapangan, konstruksi, pertambangan, pengeboran, proses : di mana jenis bahaya yang dihadapi lebih beragam, mulai dari bio-hazard : seperti gigitan serangga, ular, kelabang dan lain-lain, bahaya ceceran minyak, area kerja berbatu-batu, pekerjaan pengangkatan dan lain-lain, sepatu safety model potongan rendah sudah tak akan memadai untuk memberikan perlindungan, maka dianjurkan untuk memakai model Potongan tinggi (bisa yang memakai tali maupun yang tanpa tali) agar perlindungan yang didapat lebih memadai, tetapi disisi lain bobot sepatu model ini biasanya lebih berat di banding 2 tipe sebelumnya.
  • Pekerja khusus, dengan tingkat bahaya lebih seperti pemadam kebakaran, pekerja yang mengambil sample kimia, harus menggunakan sepatu dengan tingkat perlindungan lebih dari yang biasa.

Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Peristiwa kecelakaan kerja merupakan suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh semua pihak. Karena hal semacam ini akan menyebabkan kerugian dan pembiayaan yang besar. Untuk menghindari kecelakaan kerja, maka kita perlu mempelajari sebab-sebab kecelakaan kerja, hingga bisa mengeliminir angka kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat bersumber dari faktor manusia sendiri, alat, ataupun dari faktor lingkungan.

1. Faktor manusia

Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia diantaranya :

  • Ketidaktahuan.
    Dalam menjalankan mesin-mesin dan perlengkapan otomotif diperlukan pengetahuan yang cukup oleh teknisi. Jika tidak maka dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja. Pengetahuan dari operator dalam menjalankan perlengkapan kerja, memahami karakter dari masing-masing mesin dsb, jadi hal yang sangat penting, mengingat jika hal itu asal-asalan, maka akan membahayakan perlengkapan dan manusia tersebut.
  • Kemampuan yang kurang.
    Tingkat pendidikan teknisi otomotif sangat diperlukan untuk proses produksi dan proses maintenance atau perawatan. Orang yang memiliki kemampuan tinggi biasanya akan bekerja dengan lebih baik dan memperhatikan faktor keslamatan kerja pada pekerjannya. Oleh karenanya, untuk selalu mengasah kemampuan akan menjadi lebih baik.
  • Ketrampilan yang kurang.
    Setelah kemampuan pengetahuan teknisi baik, maka diperlukan latihan secara terus-menerus. Hal semacam ini untuk lebih selalu mengembangkan keterampilan guna semakin meminimalisir kesalahan dalam bekerja dan mengurangi angka kecelakaan kerja. Didunia keteknikan, kegiatan latihan ini sering disebut dengan training.
  • Konsentrasi yang kurang Dalam melaksanakan pekerjaan dituntut konsentrasi tinggi…
    Mesin-mesin yang beroperasi, berputar, atau bergerak tidak memiliki toleransi jika kita salah dalam mengoperasikan atau menggerakkan mesin itu. Banyak sekali hal yang bisa mengakibatkan hilangnya konsentrasi manusia, seperti masalah pribadi atau keluarga, tekanan ekonomi, ataupun sebagian faktor yang datangnya dari lingkungan seperti kondisi ruangan yang panas, atau terlalu dingin, suara yang berisik, mesin yang bising dan lain sebagainya. Oleh karenanya, faktor psikologis manusia dan lingkungan harus dikondisikan agar manusia nyaman dalam bekerja sehingga mengurangi angka kecelakaan kerja.
  • Bermain-main.
    Karakter seseorang yang senang bermain-main dalam bekerja, bisa jadi salah satu penyebab terjadinya angka kecelakaan kerja. Demikian pula dalam bekerja sering tergesa-gesa dan sembrono bisa juga mengakibatkan kecelakaan kerja. Oleh karenanya, dalam setiap melakukan pekerjaan sebaiknya dilaksanakan dengan jeli, cermat, dan hati-hati agar keselamatan kerja selalu bisa terwujud. Terlebih lagi untuk pekerjaan yang menuntut adanya ketelitian, kesabaran dan kecermatan, tidak bisa dikerjakan dengan berkerja sambil bermain.
  • Bekerja tanpa perlengkapan keselamatan.
    Pekerjaan tertentu, mengharuskan pekerja menggunakan perlengkapan keselamatan kerja. Perlengkapan keselamatan kerja didesain untuk melindungi pekerja dari bahaya yang diakibatkan dari pekerjaan yang baru dilaksanakan. Dengan berkembangnya teknologi, saat ini sudah dibuat perlengkapan keselamatan yang nyaman dan aman ketika digunakan. Perlatan keselamatan itu diantaranya pakaian kerja (wearpack), helm pengaman, kacamata, kacamata las, sarung tangan, sepatu safety, masker penutup debu, penutup telinga dari kebisingan, tali pengaman untuk pekerja di ketinggian dan sebaginya. Terkadang orang yang sudah merasa mahir malah tidak menggunakan perlengkapan keselamatan, contoh dalam mengelas tidak menggunakan topeng las. Hal semacam ini sangat salah, pekerja yang mahir dan profesional malah selalu menggunakan perlengkapan keselamatan kerja untuk menjaga
    kwalitas pekerjaan yang terbaik dan keselamatan dan kesehatan dirinya selama bekerja.
  • Mengambil resiko yang tidak tepat.
    Karena tidak ingin repot dalam bekerja, orang terkadang melakukan beberapa hal yang tidak mencerminkan tindakan yang selamat. Sebagai contoh, pekerja malas mengambil topeng las di rak keselamatan kerja, langsung mengelas tanpa pelindung mata. Tanpa di duga, ada percikan api las yang mengenai mata. Setelah dilakukan pengobatan, ternyata besarnya biaya penyembuhan tidak sepadan dengan beberapa detik mengambil perlengkapan keselamatan kerja. Demikian juga dengan mesin, sudah tahu kalau oli sudah waktunya diganti, karena hanya menyisakan pekerjaan sedikit saja, oli mesin tidak ditukar. Ternyata dengan kwalitas oli yang buruk, justru mesin menjadi panas (overheating) dan harus turun mesin, dengan biaya yang jauh lebih tinggi, ditambah tetap harus ganti oli.
  • Latar Belakang Pendidikan.
    Latar belakang pendidikan banyak memengaruhi tindakan seseorang dalam bekerja. Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi condong berpikir lebih panjang atau dalam melihat sesuatu pekerjaan akan melihat dari beragam segi. Misalnya dari segi keamanan alat atau dari segi keamanan diri. Lain perihal dengan orang yang berpendidikan lebih rendah, condong akan berpikir lebih pendek atau bisa disebutkan asal-asalan dalam bertindak. Misalnya Ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat beresiko terhadap kecelakaan kerja namun kita tidak memakai perlengkapan safety dengan benar. Hal semacam ini yang pastinya dapat menyebabkan kecelakaan
  • Psikologis.
    Faktor Psikologis juga sangat memengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Psikologis seseorang sangat berpengaruh pada konsentrasi dalam melakukan suatu pekerjaan. Apabila konsentrasi telah terganggu maka akan memengaruhi bebrapa tindakan yang akan dilakukan ketika bekerja. Sehingga kecelakaan kerja kemungkinan besar terjadi. Contoh faktor psikologis yang bisa memengaruhi konsentrasi yaitu :
    -Masalah-masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja.
    -Suasana kerja yang tidak kondusif.
    -Adanya pertikaian dengan rekan sekerja.

2. Faktor lingkungan

Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia salah satunya :

  • Tempat kerja yang tidak layak.
    Tempat kerja harus memenuhi kriteria keselamatan kerja, seperti ukuran ruangan tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan kebersihan luangan, kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya. Bila tempat kerja tidak memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan, maka kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.
  • Kondisi perlengkapan yang berbahaya
    Mesin-mesin dan perlengkapan kerja pada intinya mengandung bahaya dan menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau perlengkapan yang berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda gigi yang bergerak, transmisi dan perlengkapan yang lain. Oleh karenanya, mesin dan perlatan yang mungkin mengakibatkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak membahayakan operator atau, manusia.
  • Bahan-bahan dan perlengkapan yang bergerak.
    Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak, pelumas, dan yang lain) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat sangat mungkin terjadi kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja itu, perlu dilakukan pemikiran dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya, alat yang digunakan, jalur yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan dan lain sebagainya. Untuk bahan dan perlengkapan yang berat diperlukan alat bantu seperti forklift. Orang yang akan mengoperasikan alat bantu ini harus mengerti benar cara menggunakan forklift, karena bila tidak, kemungkinan akan muncul kesalahan dan mengancam keselamatan lingkungan ataupun tenaga kerja yang lain.
  • Transportasi.
    Kecelakaan kerja yang disebabkan dari penggunaan alat transportasi juga cukup banyak. Dari penggunaan alat yang tidak tepat (sembarangan), beban yang berlebihan (overloading), jalan yang tidak baik (turunan, gelombang, licin, sempit), kecepatan kendaraan yang berlebihan, peletakan beban yg tidak baik, semuanya bisa berpotensi untuk terjadinya kecelakaan kerja.
    Upaya untuk mengatasi hal itu diatas, diantaranyaadalah memastikan jenis transportasi yang tepat dan aman, melakukan operasi sesuai dengan standar operational procedure (SOP), jalan yang cukup, penambahan tanda-tanda keselamatan, pembatasan kecepatan, jalur khusus untuk transportasi (contoh dengan warna cat) dan lain sebagainya.

3. Faktor Alat

Kondisi suatu perlengkapan baik itu usia ataupun kwalitas sangat memengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Jika alat itu sudah rusak, sudah pasti dapat menyebabkan kecelakaan. Melakukan peremajaan pada alat-alat yang sudah tua dan Melakukan kwalitas kontrol pada alat-alat yang ada ditempat kerja. Itu penting untuk mencegah hal2 yang tidak kita kehendaki

3 Cara Menjaga Keselamatan Kerja K3 Karyawan

Mempraktekkan dan menanamkan pengetahuan keselamatan kerja K3 terhadap karyawan memang sangat penting untuk dilakukan, terutama bila berada didalam lingkungan kerja dengan resiko yang sangat tinggi atau berbahaya. Ada beberapa jenis pekerjaan yang memiliki tingkat resiko yang mengkhawatirkan di mana sering terjadi kecelakaan kerja. Tingginya angka kecelakaan kerja menjadikan pihak manajemen perusahaan bertindak preventif dan harus didukung oleh semua karyawan yang dimiliki.

Cara Tepat Melindungi Keselamatan Kerja K3 Karyawan

Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk merealisasikan prosedur keselamatan para pekerja K3 untuk semua karyawan. Cara itu meliputi beberapa hal berikut ini :

1. Memiliki Standard Operasional Procedure (SOP)
Semua perusahaan yang bergerak di bidang kerja dengan resiko tinggi wajib memiliki SOP dalam setiap kegiatan operasional yang dilakukan. SOP ini menjadi salah satu standard para karyawan yang perlu dilakukan dan ditaati sebelum mulai bekerja. Keselamatan para pekerja wajib ditunjukkan dengan SOP yang ada sehingga lebih paham dan dapat mengikuti panduan yang benar sesuai standard.

2. Teratur Melakukan Simulasi
Simulasi dapat disimpulkan dengan artian yang lebih simpel yaitu sebagai pelatihan atau menciptakan kondisi yang sama dengan kondisi berbahaya yang bisa terjadi. Simulasi yang sering dilakukan ialah simulasi kebakaran tempat kerja. Lewat simulasi atau latihan ini diharapkan setiap karyawan mengerti apa sajakah yang perlu dilakukan ketika berada di situasi genting dan berbahaya. Tempat kerja yang tertutup dan memiliki pintu darurat dan segala jenis perlengkapan yang memiliki manfaat tersendiri wajib dipahami dan diketahui cara menggunakannya.

3. Tersedianya Perlengkapan Keselamatan Kerja
Kecelakaan kerja bisa terjadi setiap saat dan menimpa siapapun, di situasi yg tidak terduga ini pastinya perlu penyediaan alat-alat keselamatan kerja yang mendukung. Bekerja di lingkungan kerja dengan resiko tinggi menjadikan setiap titik tertentu ditempat kerja terdapat perlengkapan keselamatan. Sebut saja pemadam api, kotak P3K yang berisi obat-obatan sederhana, papan info tentang perlengkapan keselamatan kerja, alat pelindung diri seperti sepatu safety dan lain sebagainya. Ketika ingin melindungi keselamatan karyawan maka wajib menyediakan perlengkapan keselamatan kerja K3 yang mendukung dan melakukan evaluasi secara kontinyu.

10 Panduan Keselamatan & Kesehatan Kerja

Keselamatan & kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat penting, bahkan harus jadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terlebih pada karyawan yang miliki pekerjaan berisiko tinggi, seperti di bidang pertambangan, konstruksi, manufaktur, warehouse, transportation dan semacamnya.

Design area kerja yang aman.

Keselamatan harus direncanakan dalam area kerja Anda dari awal. Bagaimana mesin diposisikan, di mana bahan yang dipentaskan, bagaimana produk mengalir dari satu sistem ke sistem berikutnya. Merancang area kerja dengan keselamatan sebagai perhatian utama akan menghasilkan tempat kerja yang aman, efektif dan produktif.

Menjaga area kerja yang bersih.

Wilayah kerja yang paling produktif yang bersih, rapi dan terorganisir. Bukan hanya akan Anda menghapus banyak bahaya dari area kerja dengan menjaganya agar tetap bersih, namun Anda akan menyediakan lingkungan kerja yang lebih produktif untuk karyawan Anda.

Sertakan karyawan Anda dalam perencanaan keselamatan.

Tak ada staf yang tahu lebih banyak mengenai potensi bahaya di lantai produksi Anda dari karyawan sendiri. Dapatkan masukan dari mereka dan ikuti saran mereka untuk mendapatkan info hal yang berhubungan dengan keamanan & keselamatan di daerah kerja mereka bukan mengandalkan perlengkapan perlindungan pribadi seperti sepatu safety untuk melindungi kesehatan mereka.

Memberikan instruksi kerja yang jelas.

Pastikan karyawan Anda tahu persis apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menyediakan pelatihan yang menyeluruh dan jelas, petunjuk tertulis. Walau mereka harus di buat sadar akan masalah keamanan, program keselamatan yang efisien jauh melampaui daftar hal-hal yang tidak bisa dilakukan. Apabila Anda mendokumentasikan sistem kerja Anda, pastikan kalau Anda menyertakan panduan keselamatan dasar kalau setiap pekerja membaca dan mengakui.

Fokus upaya keselamatan Anda pada masalah yang paling mungkin.

Pelanggaran keselamatan yang seringkali yaitu bukan yang paling bahaya, mereka biasanya sering terkena dampak bahaya malah dari hal yang kecil, seperti punggung tegang dari menggunakan tehnik mengangkat yang buruk atau menolak untuk menggunakan mengangkat membantu perlengkapan.

Dorong karyawan Anda untuk memberikan masukan apa sajakah kekurangan dalam hal keselamatan ditempat kerjanya ke tingkat atas/manajemen.

Keselamatan yaitu keinginan setiap orang, karyawan Anda harus secara aktif didorong untuk membawa semua jenis kekhawatiran keamanan pada manajemen, hal semacam ini dibudayakan agar sekecil apa pun yang menimbulkan dampak pada keselamatan segera di ketahui dan diperbaiki untuk mencegah hal yang besar dikemudian hari.

Untuk bagian managerial baiknya sering melihat dan belajar bagaimana setiap karyawan melakukan pekerjaan mereka. Walau Anda mungkin sudah mendokumentasikan prosedur yang tepat untuk setiap stasiun kerja, pekerja yang berbeda dapat melakukan bahkan pekerjaan yang sama dengan dokumen yang bervariasi. Perhatikan bagaimana karyawan kamu melakukan pekerjaan mereka untuk melihat apakah mereka, melakukan prosedur yang ada atau mereka mengambil jalan pintas pekerjaan yang bisa mengurangi keamanan, atau dari observasi dari kerja mereka, akan mendapatkan hal yang bagus untuk diadopsi oleh operator lain.

Menjaga semua mesin dalam keadaan baik.

Sebagai pemilik bisnis, anda harus bertanggungjawab untuk memastikan kalau anda memiliki program pemeliharaan rutin mesin-mesin ditempat kerja anda, hingga mesin anda bekerja dengan baik dan terjaga standard keselamatanya.

Hindari bahaya yang tak perlu.

Periksa tempat kerja anda dengan cermat atau buat jadwal audit secara berkala untuk mengidentifikasi perlengkapan baru atau bahan yang dapat menimbulkan potensial bahaya dan mengidentifikasi perubahan dan mengevaluasi untuk mencegah munculnya kekhawatiran akan potensial bahaya untuk keselamatan kerja.

Meninjau kembali dasar keselamatan dan kesehatan kerja anda setiap tahun.

Tak ada yang tetap sama ditempat kerja anda. Perubahan lingkungan kerja, baik itu perubahan mesin lama menjadi mesin baru, dan tata letak suatu lingkungan kerja mungkin berubah. Setiap perubahan berarti kalau pedoman keselamatan anda sebelumnya mungkin sudah tidak relevan lagi dan harus ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi perubahan yang ada.