Arti Penting Keselamatan Dalam Bekerja

pentingnya k3 bagi karyawan

Kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Menurut Jamsostek pada th. 2012, kecelakaan kerja di Indonesia sudah menyentuh angka 103.000 kasus hanya dalam 1 tahun. Bila dirata-rata, 9 pekerja Jamsostek meninggal akibat kecelakaan kerja setiap harinya. Hal itu tentu tidak mengherankan jika kita melihat jumlah perusahaan skala besar yang menerapkan Sistem Manajemen K3 yang hanya 2.1% saja dari 15.000 perusahaan.

Penerapan K3 sepenuhnya jadi tanggung jawab dari perusahaan yang memperkerjakan atau –bahasa kasarnya- yang mempertemukan para pekerja dengan bahaya-bahaya kerja. Tetapi, tidak semua perusahaan memiliki Sistem Manajemen K3 yang baik karena beberapa alasan, salah satu alasan paling klasik yaitu program K3 hanya menambah beban biaya untuk perusahaan.
Padahal, program-program K3 banyak memiliki arti penting untuk perusahaan tersebut bila perusahaan itu mau untuk menganalisis arti penting keselamatan kerja lebih dalam. Arti penting keselamatan kerja untuk perusahaan diantaranya yaitu :

Pemenuhan terhadap persyaratan (compliance)

Nilai pemenuhan persyaratan ini bisa dibilang yaitu nilai paling bawah dalam pentingnya K3 karena jika perusahaan hanya terpaku pada pemenuhan kriteria saja dalam K3, itu berarti perusahaan hanya mengambil sifat reaktif bukan proaktif dalam mencegah kecelakaan kerja. Akibatnya, perusahaan tidak begitu peduli mengenai sebagian peningkatan K3 dan cenderung menabrakannya dengan produktifitas.

Pemenuhan persyaratan ini tidak melulu dari regulasi nasional saja, pemenuhan persyaratan ini juga bisa persyaratan dari perusahaan pemilik kontrak kerja (owner dalam posisi kita sebagai kontraktor atau subcont), Kantor pusat (head quarter/General Office/Group Policy), dan auditor.

Perusahaan yang memandang K3 hanya sebagai compliance, hanya akan menunjukkan aspek K3 nya ketika ada audit atau inspeksi dari atasannya. Mereka akan memperlihatkan kondisi sebenarnya bila auditor atau atasannya sudah pergi

• Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate social responsibility)

K3 juga dapat menjadi bentuk tanggung jawab sosial perusahaan karena jika ada kecelakaan kerja yang fatal, lingkungan sekitar perusahaan dapat langsung terkena imbas dari kecelakaan itu. Oleh karenanya, perusahaan wajib menjaga sistem produksinya agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.

• Menjaga asset

Banyak kasus kecelakaan kerja yang langsung membuat perusahaan bangkrut. Kasus tenggelamnya Titanic dan jatuhnya Pesawat Mandala Air yaitu sebagai contoh. Bahkan, ada beberapa kasus Kecelakaan Kerja yang sempat menggoyang pemerintahan suatu Negara, misalnya kasus tertimbunnya pekerja tambang di Turki dan kasus tenggelamnya kapal wisata di Korea Selatan. Maka benarlah kata para professional keselamatan kerja kalau safety is not everything, but everything will be nothing without safety (keselamatan kerja bukanlah segalanya, tetapi segalanya tidak akan berarti tanpa keselamatan)

Karyawan, gedung pabrik dan fasilitas pabrik yaitu asset perusahaan yang perlu perusahaan jaga. Aset-aset itu harus perusahaan pastikan dapat berperan sampai jangka waktu yang panjang (sustain). Perusahaan pastinya akan mengalami kerugian yang besar bila suatu saat aset itu mengalami gangguan hingga berdampak negatif pada sistem produksinya. Oleh karenanya, melalui Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Perusahaan dapat memastikan aset-aset itu berfungsi hingga jangka waktu yang lama.

• Meningkatkan produktifitas

Kadang perusahaan-perusahaan membenturkan yaitu keselamatan kerja dengan produktifitas. Mereka menganggap keselamatan kerja sebagai biaya (cost) dan juga membuat mereka mengeluarkan waktu ekstra untuk mematuhi prosedur-prosedur keselamatan kerja yang kadang terlalu rumit untuk mereka.

Padahal, program Keselamatan Kerja tidak selamanya berbanding terbalik dengan produktifitas. Program ergonomik misalnya, seperti tulisan saya sebelumnya, dapat meningkatkan produktifitas karyawan karena dan memotong waktu dari kegiatan pekerjaan dan menurunkan tingkat keletihan operator. Contoh lagi pada program penutupan (covering) konveyor untuk melindungi pekerja dari bahaya tersangkut di konveyor dapat melindungi konveyor dari debu sehingga akan lebih tahan lama.

• Jadi perusahaan yang memanusiakan pekerjanya (Humanized company)

Semua perusahaan, kecil atau besar, selalu menginginkan keuntungan yang selalu meningkat namun tidak semua perusahaan menginginkan peningkatan performa keselamatan kerja. Padahal mereka memperkerjakan para karyawan yang sebagian besar diantara mereka yaitu kepala keluarga atau tulang punggung dari sebuah keluarga.

Itu berarti, ketika ada salah seorang pekerja dari sebuah perusahaan tewas karena kecelakaan kerja, maka keluarga yang ditinggal pekerja itu akan mengalami kesulitan ekonomi. Dari ada problem ekonomi itu, tidak mengherankan, jika dari keluarga itu lahir pengemis, pencuri atau bahkan perampok untuk sesuap nasi. Dengan demikian, setiap perusahaan yang membiarkan karyawannya meninggal sama saja sudah menciptakan pengemis, pencuri dan perampok secara tidak langsung.

Setiap perusahaan wajib menjadi perusahaan yang memanusiakan pekerjanya dalam arti semua pekerjaan yang dibebankan kepada para pekerja harus dalam lingkup kemampuan manusia dan tidak membahayakan pekerja mereka sendiri.

Pentingnya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

manfaat k3 bagi perusahaan dan karyawan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan masalah yang kompleks pada suatu lingkungan kerja. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja biasanya dikarenakan oleh faktor manajemen, disamping faktor manusia dan teknis. Tingkat pengetahuan, pemahaman, perilaku, kesadaran, sikap dan tindakan masyarakat pekerja dalam upaya penanggulangan masalah keselamatan kerja masih sangat rendah dan belum diletakkan sebagai suatu kebutuhan pokok untuk peningkatan kesejahteraan secara menyeluruh termasuk peningkatan produktivitas kerja.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan resiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan rencana ini tidak boleh dianggap sebagai upaya mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menggunakan banyak biaya (cost) perusahaan, tetapi harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa mendatang.

OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment Series) 18001 : 2007 yaitu Standard Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Standard ini diterbitkan pada Juli 2007, menggantikan edisi sebelumnya, OHSAS 18001 : 1999. OHSAS 18001 memberikan kerangka dasar dalam mengatur aktifitas – aktifitas organisasi dengan mempertimbangkan aspek – aspek keselamatan dan kesehatan pekerja.

Penerapan OHSAS 18001 berarti merencanakan pengendalian dan menerapkan pengendalian terhadap semua aktifitas dalam organisasi yang memiliki potensi membahayakan keselamatan dan kesehatan pekerja. Organisasi juga harus mengerti semua ketentuan dan perundangan terkati keselamatan dan kesehatan kerja dan berupaya untuk memenuhi ketentuan dan perundangan itu.

Penerapan OHSAS 18001 membutuhkan prinsip dari pihak manajemen dan pengembangan wawasan dan setiap karyawan akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sama halnya dengan penerapan ISO 9001, penerapan OHSAS 18001 juga memerlukan tahapan – tahapan yang sistematis, yang dimulai dari tahapan perencanaan perubahan, pelaksanaan, pemantauan dan tindak lanjut.

Biasanya organisasi dapat menerapkan OHSAS 18001 dalam waktu sekitar 6 bulan. Variasi waktu tergantung dari ketersediaan sumber daya dalam organisasi, komitmen pihak manajemen, tingkat resiko dan banyaknya potensi bahaya dalam aktifitas – aktifitas yang dilakukan organisasi dan pengaturan program.

Dengan pemahamanan OHSAS 18001 secara benar diharapkan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat berjalan dengan baik sehingga perusahaan mendapatkan manfaat seperti :

  • Meningkatkan citra organisasi dimata publik dan pihak-pihak yang berkepentingan (pemerintah, pelanggan).
  • Organisasi dapat lebih mengerti pentingnya sistem manajemen Keselamatan kesehatan kerja/K3 (OHSAS 18001).
  • Organisasi mengetahui standard OHSAS 18001.
  • Organisasi mengetahui hubungan antara OHSAS 18001 dengan ketentuan pemerintah, UU Tenaga Kerja.
  • Mengembangkan kecakapan manajemen K3.
  • Meningkatkan performance manajemen K3.
  • Mencegah dan menurunkan tingkat kecelakaan.
  • Membantu menurunkan premi asuransi.
  • Membantu perusahaan sehingga produksi berjalan dengan lancar.
  • Menambah kesadaran untuk semua susunan dari karyawan sampai top manajemen tentang pentingnya K3 di perusahaannya.
  • Meningkatkan hubungan yang selaras antar pekerja dan pihak-pihak lain dalam organisasi dengan cara memberi perlindungan keselamatan dan kesehatan yang layak terhadap pekerja.

Perilaku Selamat dalam Bekerja (Safety Behaviour)

contoh perilaku keselamatan saat bekerja

Perilaku selamat dalam bekerja yaitu penerapan pola dan cara berperilaku kerja personal ditempat kerja yang lebih mengutamakan pada usaha antisipasi terhadap terjadinya kecelakaan ditempat kerja. Semua pekerja, baik karyawan ataupun manajer perusahaan, perlu mengetahui perilaku ini (selamat dalam bekerja). Tentu tidak lain untuk menjaga agar lingkungan tetap kondusif, dan seluruh pekerja merasa nyaman dalam bekerja.

Penyebab Kecelakaan Kerja

Terdapat 2 hal pokok penyebab kecelakaan, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Faktor manusia memegang peran penting dalam hal timbulnya kecelakaan, sekitar 80% – 85% kecelakan disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan faktor manusia. (Suma’mur, 1993)

Akibat Kecelakaan Kerja

Ada banyak hal yang timbul yang disebabkan kecelakaan kerja. Semua kecelakaan kerja yang diketahui atau dilaporkan yang menyebabkan :

  1. Kerugian harta benda (asset), mulai dari yang kecil sampai besar, misalnya waktu kerja yang terbuang karena mesin OFF dan memerlukan perbaikan.
  2. Korban manusia, mulai dari cidera ringan sampai meninggal dunia, fatality (termasuk akibat keracunan pestisida pada manusia).
  3. Korban manusia dari penyakit akibat kerja (PAK). Karena manusia terkena PAK, tetapi ia memaksakan diri untuk terus bekerja dan menyebabkan menurunnya konsentrasi pada dirinya, hal semacam itu bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja.
  4. Munculnya biaya tidak terduga, misalnya kehilangan efisiensi produksi karena karyawannya berhenti bekerja, biaya pelatihan karyawan baru, dsb.

Mengapa Unsafe Behavior Terjadi?

Orang atau tenaga kerja sering melakukan unsafe behavior atau unsafe human act karena :

Merasa telah ahli dibidangnya dan belum pernah mengalami kecelakaan meskipun melakukan unsafe behavior.
Mereka berpendapat kalau, apabila selama ini bekerja dengan cara ini (unsafe) tidak terjadi apa-apa dan tidak berpengaruh apa-apa sama sekali, kenapa harus dirubah? Pernyataan itu mungkin benar, tetapi hal ini merupakan potensi besar terjadinya kecelakaan kerja.

Perilaku unsafe mendapat dukungan yang besar dari lingkungan, sehingga selalu dilakukan dalam pekerjaan.
Tenaga kerja sebenarnya ingin mengikuti kebutuhan akan keselamatan (safety needs), tetapi adanya kebutuhan lain telah menimbulkan konflik alam dirinya. Hal semacam ini membuatnya menomorduakan keselamatan kerja terhadap faktor lainnya.

Faktor lainnya itu antara lain yaitu keinginan menghemat waktu, menghemat usaha, merasa lebih nyaman, menarik perhatian, mendapat kebebasan dan mendapat penerimaan dari lingkungan.

Contoh Unsafe Behavior :

  • Mengoperasikan perlengkapan tanpa wewenang.
  • Gagal untuk memberikan peringatan dan gagal untuk mengamankan.
  • Bekerja dengan kecepatan yang salah.
  • Menggunakan alat yang rusak dan atau menggunakan alat dengan cara yang salah.
  • Bersendau-gurau ditempat kerja dan atau mabuk karena minuman beralkohol atau minum obat keras.
  • Memperbaiki mesin tanpa dimatikan terlebih dulu.
  • Tidak menggunakan alat-alat keselamatan kerja seperti sepatu safety dll.
  • Bertindak yang mengakibatkan alat-alat keselamatan kerja tidak berfungsi.

Oleh karenanya, perilaku selamat dalam bekerja atau safety behaviour penting untuk kita ketahui. Hal semacam ini hanya untuk menjaga produktivitas kerja kita, atau apabila memang Anda sudah tahu, kita ingat lagi bagaimana cara kerja kita sekarang, tetap produktif atau justru melalaikan beberapa pekerjaan?

Hal Yang Mendasari Tindakan Tidak Aman

contoh tindakan tidak aman

Sebagai bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan penyebab kecelakaan. Menurut teori Domino yang dikemukakan oleh Heinrich, bahwa kecelakaan terjadi karena adanya Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dan Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition).

Teori ini menjadi cikal akan timbulnya teori terjadinya kecelakaan, dan sekitar th. 70-an, Frank E Bird, Jr mengembangkan konsep baru mengenai teori terjadinya kecelakaan. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan yang dikeluarkan oleh Heinrich, hanya saja aspek Tindakan Tidak Aman dan Kondisi Tidak Aman dimasukkan kedalam penyebab langsung. Karena Bird berasumsi kalau Penyebab dasar (Basic Cause) ialah Faktor yang berasal dari manajemen.

Pada artikel inspirasi kali ini, kami akan mengulas tentang Tindakan Tidak Aman. Faktor kecelakaan yang satu ini memiliki dampak yang besar terhadap kecelakaan yang terjadi. Menurut Heinrich, bahwa Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) menyumbang sebesar 80% dari Kecelakaan yang terjadi. Bila Anda bagian Keselamatan Kerja, Anda pun bisa menunjukkan dengan Statistik Kecelakaan ditempat kerja Anda. meskipun akhirnya tidak harus sesuai 80%, tetapi Tindakan Tidak Aman menjadi kontributor terbesar.

Kesalahan Manusia (Human Error) Ialah Bentuk Kegagalan Manusia (Human Failure)

Banyak praktisi dan ahli mencoba mendeskripsikan tentang Kesalahan Manusia (human error), tetapi belum ditemukan pengertian yang cocok untuk menggambarkan human error. Pada akhirnya, semua ahli setuju untuk membahas bersama bagaimana Human Error itu bisa didefinisikan dan di dapat hasil bahwa.

A Human error is the performance of task such that task’s goal can not achieved and the failure to achieve the goal can not attributed to factors beyond the human operator control. Kesalahan manusia ialah kegagalan manusia dalam melakukan suatu tugas sehingga tujuannya tidak bisa dicapai, kegagalan mencapai tujuan ini bukan disebabkan oleh faktor diluar kendali manusia itu. Kegagalan Manusia (Human Failure) Juga Sering Disebut Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act)

Didalam HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) menguraikan bahwa kegagalan manusia (human failure) atau disebut sebagai tindakan tidak aman (unsafe acts) pada dasarnya terdiri dari dua katagori, yaitu kesalahan manusia (human error) dan pelanggaran (violation). Kesalahan manusia (human error) yaitu representasi dari suatu aktivitas mental dan fisik seseorang yang tidak berhasil melakukan suatu hal yang diinginkan. Sedangkan pelanggaran (violation) menunjukkan adanya keinginan untuk mengabaikan petunjuk atau ketentuan yang telah diputuskan untuk melakukan suatu tugas tertent.

Konsep yang dikemukakan oleh James Reason diatas, bahwa didalam Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) bisa disebabkan karena Human error maupun pelanggaran (violation).

Bagaimana Human Error Bisa Terjadi

Human error sendiri diartikan sebagai ketidak sengajaan pada tindakan atau ketentuan yang dipengaruhi oleh keterampilan (skill based errors) serta kesalahan (mistake). Kesalahan yang disebabkan oleh keterampilan, dapat membuat seseorang melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan rencana awal atau sering disebut dengan “Slips of Action” serta Lupa melakukan suatu hal yang perlu dilakukan dalam suatu tugas/aktivitas yang sering disebut dengan “Lapses of Memory”.

Sedangkan kesalahan dalam memutuskan (Mistake), dibagi menjadi 2 yaitu kesalahan yang didasari karena ketentuan (rule based mistake) dan kesalahan yang didasari karena pengetahuan (knowledge based mistake). Rule based mistake ialah kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang semestinya dilakukan atau melakukan suatu aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang semestinya dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Knowledge based mistake ialah kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak dmilikinya pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan suatu kesibukan atau tugas.

Yang Cukup Menghawatirkan Yaitu Pelanggaran (Violation)

Pelanggaran (violation) ialah Kegagalan yang disengaja, pelaku sengaja melakukan hal yang salah atau tidak diperbolehkan. Didalam beberapa kasus peristiwa kecelakaan, pelanggaran memegang peranan yang besar terhadap terjadinya kecelakaan. Alasan yang sering muncul yaitu “Saya tidak miliki alasan lain untuk tidak melakukan hal itu ” atau ” Saya tidak peduli dengan konsekwensi yang akan saya terima “.

Pelanggaran ini bisa berbentuk pelanggaran yang sudah dianggap menjadi rutinitas (Routine), penggaran karena kondisi tertentu (situational seperti cuaca, perlengkapan kerja yang tidak sesuai, dan sebagainya), dan mengambil keputusan yang tidak sesuai aturan karena adanya kondisi darurat (exceptinal).

Demikian kajian tentang Kegagalan Manusia (human failure) yang sering disebut dengan Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dalam konsep terjadinya kecelakaan. Bisa disimpulkan kalau seseorang melakukan suatu kegagalan sehingga menyebabkan kecelakaan bisa didasari karena adanya ketidak sengajaan (human error) yang disebabkan karena ketrampilan, ketentuan, ataupun pengetahuan serta kegagalan karena disengaja atau sering disebut dengan pelanggaran (violation).

Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bekerja pada Ketinggian Menggunakan Akses Tali (ROPE ACCESS)

standar operasional prosedur bekerja di ketinggian

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bekerja pada ketinggian atau working at height memiliki potensi bahaya yang besar. Ada beragam macam metode kerja di ketinggian seperti menggunakan perancah, tangga, gondola dan sistem akses tali (Rope Access Systems).

Masing masing cara kerja memiliki kelebihan dan kekurangan dan resiko yang berbeda-beda. Oleh karena itu pengurus maupun manajemen perlu memperhitungkan penggunaan cara dengan memperhatikan aspek efektifitas dan resiko baik yang bersifat finansial dan non finansial. Aspek resiko akan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi perhatian utama semua pihak ditempat kerja. Hal semacam ini selain untuk memberikan jaminan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja untuk tenaga kerja, juga sangat berkaitan dengan keselamatan asset produksi.

Saat ini telah berkembang pekerjaan pada ketinggian dengan akses tali (rope access). Cara ini dikembangkan dari tehnik panjat tebing dan penelusuran gua. Akses tali sudah diterapkan secara luas dalam pembangunan, kontrol, perawatan bangunan dan instalasi industri seperti gedung tinggi, menara jaringan listrik, menara komunikasi, anjungan minyak, perawatan dan perbaikan kapal, perawatan jembatan, ruang terbatas (confined spaces), pertambangan, industri pariwisata seperti out bound, riset dan perawatan hutan dan lain sebagainya.

Undang-undang No. 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja mengamanatkan bahwa pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan pada setiap tenaga kerja mengenai kondisi dan bahaya ditempat kerja, alat pengaman dan alat pelindung yang diwajibkan, alat pelindung diri dan cara dan sikap yang aman dalam melakukan pekerjaan. Selain itu, pengurus juga hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang diyakini sudah mengerti kriteria keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaan itu. Atas dasar tersebut, dirasakan perlunya suatu pedoman bekerja pada ketinggian dengan menggunakan akses tali (rope access).

Maksud penyusunan pedoman ini sebagai tips untuk pemangku kepentingan seperti : pengusaha, pengurus tempat kerja, operator, teknisi, pemilik gedung, arsitek mau pun praktisi industri yang akan dan sudah menerapkan metode akses tali dalam bekerja dan untuk pengawas ketenagakerjaan dalam melakukan pembinaan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja.

Pedoman ini merupakan kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh pengurus tempat kerja, pekerja dan semua pihak yang melaksanakan pekerjaan pada ketinggian dengan menggunakan akses tali. Oleh karena itu pedoman ini berisi bebrapa ketentuan tehnis yang pokok. Prosedur dan cara kerja dan standard perlengkapan secara detil dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan dan tehnologi.

B. Ruang lingkup

Ruang lingkup Ketentuan Direktur Jenderal ini meliputi :

  • Penentuan sistem akses.
  • Perlengkapan dan instalasi sistem akses tali.
  • Identifikasi bahaya dan prosedur manajemen resiko.
  • Kwalifikasi, kriteria, wewenang dan kewajiban teknisi akses tali.

C. Pengertian

Akses tali (rope access) yaitu suatu bentuk aktifitas pekerjaan atau posisi dalam bekerja yang awalnya dikembangkan dari tehnik pemanjatan tebing atau penelusuran gua, digunakan untuk mencapai tempat-tempat yang sulit dijangkau, tanpa adanya bantuan perancah, platform maupun tangga.

Bekerja pada ketinggian (working at height) yaitu pekerjaan yang memerlukan gerakan tenaga kerja untuk bergerak secara vertikal naik, mau pun turun dari suatu platform.

  • Direktur ialah pejabat sebagaimana disebut pada pasal 1 ayat (4) Undang- Undang Nomor 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja.
  • Pengurus ialah pengurus sebagaimana disebut pada pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja.
  • Pengusaha ialah orang atau badan hukum seperti disebut pada pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja.
  • Pegawai Pengawas yaitu Pegawai Pengawas seperti disebut pada pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja.
  • Menteri ialah Menteri yang bertanggungjawab di bagian ketenagakerjaan.
  • Teknisi yaitu petugas pelaksana pemasangan, pemeliharaan, perbaikan dan atau pelayanan instalasi dan perlengkapan/komponen dalam penerapan metode akses tali (rope access).

D. Kewajiban umum Pengurus, Pengusaha dan Pekerja

1. Sesuai dengan undang-undang keselamatan kerja, pengurus memiliki kewajiban untuk menunjukkan dan menjelaskan pada setiap tenaga kerja mengenai :
a. kondisi dan bahaya yang bisa muncul ditempat kerja.
b. alat pengaman dan alat pelindung yang diwajibkan.
c. alat pelindung diri.
d. cara dan sikap yang aman dalam melakukan pekerjaan.

2. Pengurus harus melakukan ingindalian bahaya dan penilaian resiko ditempat kerja.
3. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang sudah mengerti kriteria keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaan akses tali dan dibuktikan dengan sertifikat pelatihan dan lisensi.
4. Pengurus harus menyediakan dan menjaga perlengkapan kerja dan tempat kerja dan mengatur cara kerja, untuk melindungi para pekerja terhadap resiko kecelakaan dan kesehatan.
5. Pengurus harus selalu memberikan pengawasan agar para pekerja dapat bekerja dalam kondisi aman dan sehat.
6. Pengusaha dan pengurus harus meyakini kalau :
a. peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan akses tali sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan standard yang berlaku ;
b. peralatan dan perlengkapan yang digunakan harus dilengkapi dengan buku panduan yang memberikan keterangan tentang uji coba, penggunaan dan perawatannya, dan memberikan keterangan mengenai kemungkinan munculnya bahaya.
7. Pekerja harus menggunakan alat pelindung diri dan memenuhi semua kriteria atau standard keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan oleh pengurus dan ketentuan perundang-undangan.

II. KRITERIA PEMILIHAN SISTEM AKSES

Sistem keselamatan bekerja pada ketinggian dapat dibagi menjadi 2 (dua) , yaitu sistem keselamatan aktif dan sistem keselamatan pasif. Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu disesuaikan dengan sifat pekerjaan. Suatu pekerjaan bisa saja menggunakan kombinasi kedua sistem maupun hanya salah satu sistem. Ketentuan untuk menggunakan sistem itu ada pada pengurus setelah dilakukan penilaian resiko.

A. Katagori Sistem Bekerja pada Ketinggian

Penentuan sistem bekerja pada ketinggian sebaiknya memperhitungkan beberapa hal. Ada beberapa sistem atau cara bekerja pada ketinggian, yaitu :

1. Sistem Pasif

Yaitu sistem di mana ketika bekerja melalui suatu struktur permanen mau pun struktur yg tidak permanen, tidak mensyaratkan pentingnya penggunaaan perlengkapan pelindung jatuh (fall protection devices) karena sudah terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system). Pada sistem ini memerlukan supervisi dan pelatihan dasar.

Metode pekerjaan :
a. Bekerja pada permukaan seperti lantai kamar, balkon dan jalan ;
b. Struktur/area kerja (platform) yang dipasang secara permanen dan peralatannya ;
c. Bekerja didalam ruang yang terdapat jendela yang terbuka dengan ukuran dan konfigurasinya dapat melindungi orang dari terjatuh.

2. Sistem Aktif

Yaitu suatu sistem di mana ada pekerja yang naik dan turun (lifting/lowering), ataupun berpindah tempat (traverse) dengan menggunakan perlengkapan untuk mengakses atau mencapai suatu titik kerja karena tidak terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system). Sistem ini mensyaratkan adanya pengawasan, pelatihan dan pelayanan operasional yang baik.

Metode Pekerjaan :
a. Unit perawatan gedung yang dipasang permanen, seperti gondola.
b. Perancah (scaffolding).
c. Struktur/area kerja (platfrom) untuk pemanjatan seperti tangga pada menara.
d. Struktur/area kerja mengangkat (elevating work platform) seperti hoist crane, lift crane, mobil perancah.
e. Struktur sementara seperti panggung pertunjukan.
f. Tangga berpindah (portable ladder)
g. Sistem akses tali (rope access)

3. Sistem AksesTali (Occupational Rope Access)

Akses Tali dapat di golongkan sebagai sistem aktif. Akses tali yaitu suatu tehnik bekerja menggunakan tali temali dan beragam peralatannya dan dengan tehnik khusus. Cara ini biasanya digunakan untuk mencapai posisi pekerjaan yang sulit di jangkau sesuai dengan beragam jenis kebutuhan.

Sistem ini mengutamakan pada penggunaan alat pelindung diri sebagai pembatas gerak dan penahan jatuh (work restraints) dan pengendalian administratif berbentuk pengawasan dan kompetensi kerja untuk pekerjanya.

Prasyarat penggunaan sistem akses tali yaitu :
a. Terdapat tali kerja (working line) dan tali pengaman (safety line)
b. Terdapat dua penambat (anchorage)
c. Peralatan alat bantu (tools) dan alat pelindung diri
d. Terdapat personil yang kompeten.
e. Pengawasan yang ketat.

Contoh-contoh aplikasi akses tali (rope access) seperti :
a. Pekerjaan naik dan turun di beberapa sisi gedung (facade), atria gedung, menara (tower), jembatan dan banyak susunan lainnya ;
b. Pekerjaan pada ketinggian secara horisontal seperti di jembatan, atap bangunan dan lain-lain ;
c. Pekerjaan di ruang terbatas (confined spaces) seperti bejana, silo dan sebagainya.
d. Pekerjaan pemanjatan pohon, pemanjatan tebing, gua, out bound dan sebagainya.
Teknik akses tali dapat diandalkan dan cenderung efektif untuk menggerakkan pemeriksaan pada sistem instalasi dan beberapa pekerjaan ringan sampai sedang. Metode akses tali merupakan cara alternatif untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan s/d tingkat sedang dalam posisi yang sulit dan yang memerlukan kecepatan (rapid task force).

B. Hirarki Pemilihan

Setiap pengurus harus memperhatikan sistim akses yang tersedia untuk bekerja di suatu bangunan atau struktur. Pengambilan ketentuan untuk memastikan atau memilih suatu sistem akses untuk pekerjaan pada ketinggian, harus mengikuti hirarki pengendalian resiko bahaya sebagai berikut :

1. Eliminasi resiko

2. Minimalisasi resiko, diantaranya dengan :
a. substitusi, yakni dengan memilih sistem akses yang memiliki resiko bahaya lebih rendah.
b. Modifikasi disain bangunan, pabrik atau struktur.
c. Isolasi dari bahaya dan atau
d. Pengendalian tehnis yang lain.

3. Penggunaan alat pelindung diri

III. INSTALASI DAN PERALATAN SISTEM AKSES TALI

A. Kriteria Instalasi

Saat working rope dan safety rope ditambatkan pada struktur yang ada yang disebut bagian dari gedung atau struktur sementara yang didirikan, harus memenuhi kriteria seperti berikut :

  1. Titik angkor dan struktur bangunan harus mampu menahan beban maksimum dari beban working rope dan safety rope setidak tidaknya 1200 kg dalam arah jatuhan beban.
  2. Bangunan atau struktur dan patok tambat harus dinilai dan diuji oleh pengawas.
  3. Salinan dokumentasi yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilakukan dengan sistem akses tali harus disimpan ditempat kerja saat sistem ini digunakan. Dokumen itu diantaranya : standard prosedur kerja, penilaian resiko, rigging plan, site checklist, asuransi, lembar data keselamatan kimia (SDS), nomor telepon darurat, laporan hasil perawatan dan perbaikan instalasi patok tambat.
  4. Telah dilakukan pemeriksaan pertama dan berkala terhadap struktur dan titik patok tambat oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli K3 yang memiliki spesialisasi di bagian akses tali dan di keluarkan ijin pengesahan penggunaan. Kontrol dilakukan terutama terhadap kemungkinan aspek korosi terhadap struktur ataupun patok tambat dan sebagian aspek lain yang mungkin mengakibatkan tidak aman saat penggunaan sistem dan perlengkapannya.
  5. Apabila patok tambat terletak diluar gedung dan terpapar oleh cuaca dalam waktu lama, maka harus di pastikan kalau patok tambat itu aman dipasang untuk segala kondisi/cuaca. Lubang patok tambat harus dilindungi dengan baik untuk menghindari kelembaban.
  6. Apabila patok tambat ditempatkan permanen diluar gedung, maka penempatannya harus ditempatkan setidak- tidaknya 2 meter dari tepi bangunan.
  7. Setiap sistem patok tambat permanen diikuti dengan instalasinya, harus dilengkapi dengan dokumentasi yang perlu tersedia ditempat kerja (building management) dan harus selalu tersedia apabila diperlukan oleh teknisi akses tali sebelum proses pekerjaan.
  8. Dokumen itu harus memuat setidak tidaknya info tentang :
    a. Perusahaan/orang yang memasang, tanggal pemasangan dan panduan komplit penggunaan sistem angkor.
    b. Penilaian resiko awal (Initial risk assessment)

B. Kriteria perlengkapan dan Alat Pelindung Diri

  1. Perlengkapan yang akan digunakan harus dipilih yang sudah memenuhi standard sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan yang sesuai dengan tujuan penggunaan.
  2. Jika meragukan standard yang digunakan dalam pembuatan perlengkapan dan penggunaannya, maka sangat dianjurkan untuk menghubungi pabrikan pembuat.
  3. Pemilihan perlengkapan harus memperhitungkan kecocokan dengan perlengkapan lain dan fungsi keamanan perlengkapan tidak terganggu atau menggangu sistem lain.
  4. Pabrikan perlengkapan harus menyediakan info tentang produk. Info ini harus di baca dan dipahami oleh pekerja sebelum menggunakan perlengkapan.
  5. Perlengkapan harus diperiksa secara visual sebelum penggunaan untuk memastikan kalau perlengkapan itu ada pada kondisi aman dan dapat bekerja dengan benar.
  6. Prosedur harus diterapkan pada kontrol dan pemeliharaan perlengkapan. Daftar pencatatan pemeliharaan keseluruhan perlengkapan harus disimpan dengan baik.
  7. Dilarang melakukan modifikasi atau perubahan atas spesifikasi perlengkapan tanpa mendapat ijin dari pengawas atau pabrikan pembuat karena dapat menyebabkan perubahan kinerja perlengkapan. Setiap perubahan atau modifikasi harus dicatat dan perlengkapan di beri label khusus.
  8. Peralatan dan alat pelindung diri yang perlu digunakan dalam bekerja yang disesuaikan dengan lingkungan kerja yaitu :
    a. Pakaian kerja yang menyatu dari bagian tangan, pundak, bahu, tubuh sampai ke bagian pinggul, dan kaki. Pakaian jenis ini biasanya disebut wearpack atau overall. Pakaian ini di bagian kantongnya harus di beri penutup berbentuk ritsleting (zip) dan tidak berbentuk pengancing umum (button).
    b. Full body harness harus nyaman digunakan dan tidak mengganggu gerak ketika bekerja, mudah di setel untuk menyesuaikan ukuran.
    c. Sepatu safety (safety shoes/protective footwear) dengan konstruksi yang kuat dan terdapat pelindung jari kaki dari logam (steel toe cap), nyaman digunakan, dan mampu melindungi dari air/basah.
    d. Sarung tangan (gloves), untuk melindungi jari tangan dan kulit dari cuaca ekstrim, bahan berbahaya, dan alat bantu yang digunakan.
    e. Kacamata (eye protection), untuk melindungai mata dari debu, partikel beresiko, sinar matahari/ultraviolet, bahan kimia, material hasil peledakan dan potensi bahaya lain yang bisa menyebabkan iritasi dan kerusakan pada mata.
    f. Alat pelindung pernapasan (respiratory protective equipment), perlengkapan ini harus digunakan pada lingkungan kerja yang memiliki resiko kesulitan bernafas disebabkan oleh bahan kimia, debu, atau partikel beresiko.
    g. Alat pelindung pendengaran (hearing protection), alat ini digunakan ketika tingkat bunyi (sound level) sudah diatas nilai ambang batas.
    h. Jaket penyelamat (life jacket) atau pengapung (buoyancy), digunakan pada pekerjaan yang dilakukan diatas permukaan air misalnya pada struktur pengeboran minyak lepas pantai (offshore basis). Perlengkapan ini harus memiliki disain yg tidak menggangu perlengkapan akses tali terlebih ketika turun atau naik.
    i. Tali yang digunakan terbagi dalam 2 karakteristik yaitu elastisitas kecil (statik) dan tali dengan elastisitas besar (dinamik). Tali yang digunakan untuk sistem tali harus di pastikan :
    1) Tali yang digunakan sebagai tali kerja (working line) dan tali pengaman (safety line) harus memiliki diameter yang sama.
    2) Tali dengan elastisitas kecil (tali statis) dan tali daya elastisitas besar (dinamik) yang digunakan dalam sistem akses tali harus memenuhi standard.
    j. Tali Koneksi (cow’s Tail/lanyard)
    1) Yaitu tali pendek yang menghubungkan antara sabuk pengaman tubuh (full body harness) dengan tali kerja, tali pengaman, patok pengaman, patok pengaman, dan perlengkapan dan peralatan pengaman lainnya.
    2) Harus di pastikan kalau tali koneksi yang digunakan harus berdasarkan standard.
    k. Pelindung Kepala
    1) Pelindung kepala wajib digunakan dengan benar oleh setiap pekerja yang terlibat dalam pekerjaan di ketinggian, baik yang berada di bagian bawah di ketinggian.
    2) Pekerja wajib menggunakan pelindung kepala sesuai standard.
    3) Pelindun kepala yang dipakai oleh Teknisi Akses Tali memiliki sedikitnya tiga tempat berbeda yang terhubung dengan cangkang helm dan termasuk tali penahan dibagian dagu.
    l. Sabuk pengaman tubuh (full body harness) Harus di pastikan kalau sabuk pengaman tubuh (full body harness) yang digunakan pada pekerjaan akses tali sudah sesuai dengan standard.
    m. Alat Penjepit Tali (Rope Clamp)
    Harus di pastikan kalau alat penjepit tali (rope clamp) yang digunakan pada sistem akses tali sesuai dengan standard.
    n. Alat Penahan Jatuh Bergerak (mobile fall arrester)
    Harus di pastikan kalau alat jatuh bergerak (mobile fall arrester) yang digunakan pada sistem akses tali sudah sesuai dengan standard.
    o. Alat Penurun (Descender)
    Harus di pastikan alat penurun yang digunakan pada sistem akses tali sudah sesuai dengan standard.
  9. Peralatan dan alat pelindung diri harus di pastikan sudah sesuai dengan standard berikut ini yaitu :
    a. Standard Nasional Indonesia.
    b. Standard uji laboratorium.
    c. Standard uji internasional yang independen, seperti British Standard, American National Standard Institute, atau badan standard uji internasional lainnya.
  10. Usia masa pakai perlengkapan dan alat pelindung diri yang terbuat dari kain/textile sintetik yaitu sebagai berikut :
    a. tidak pernah digunakan : 10 tahun.
    b. digunakan 2 kali setahun : 7 tahun.
    c. digunakan sekali dalam 1 bulan : 5 tahun.
    d. digunakan dua minggu sekali : 3 tahun.
    e. digunakan setiap minggu sekali : 1 tahun lebih.
    f. digunakan hampir setiap hari : kurang dari 1 tahun.

Konsep Dasar Keselamatan Kerja

tujuan utama keselamatan kerja

1.1 Pengertian Dasar Safety

Safety berasal dari bahasa Inggris yang artinya keselamatan. Kata-kata safety sangat popular dan dipahami oleh hampir semua kalangan. Bahkan sebagian besar perusahaan lebih suka menggunakan kata safety daripada keselamatan. Misalnya hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur memiliki Departemen Safety atau Safety Departement. Safety dapat disimpulkan sebagai suatu kondisi di mana seseorang terbebas dari kecelakaan atau bahaya baik yang bisa mengakibatkan kerugian secara material dan spiritual. Penerapan safety biasanya terkait dengan pekerjaan sehingga safety lebih condong diartikan keselamatan kerja. Bahkan saat ini safety sudah tidak bisa dipisahkan dengan kesehatan (Health) dan lingkungan (Environment) atau yang lebih di kenal dengan Safety Health Environment (SHE), ada pula yang menyebutnya Occupational Health & Environment Safety (OH&ES). Maka secara lebih luas safety dapat diartikan sebagai kondisi dimana tidak terjadinya atau terbebasnya manusia dari kecelakaan, penyakit akibat kerja dan kerusakan lingkungan akibat polusi yang dibuat oleh suatu sistem industri.

Faktor-faktor yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau terjadinya kondisi tidak aman dapat dipelajari dengan pendekatan keilmuan atau pendekatan praktis yang lalu dikembangkan menjadi konsep dan teori mengenai kecelakaan. Biasanya teori mengenai kecelakaan memusatkan perhatian pada tiga faktor penyebab utama kecelakaan yaitu perlengkapan, cara kerja dan manusia atau pekerja. Seorang ahli keselamatan kerja Heinrich (1931) mengembangkan suatu konsep atau teori terjadinya kecelakaan yang dikenal dengan teori domino. Berdasarkan teori ini suatu kecelakaan terjadi dapat disebabkan olehlimafaktor yang berdampak secara berurutan seperti limat batu domino yang dideret berdiri sejajar, yang jika batu yang didepan jatuh akan menyebabkan jatuhnya batu-batu yang ada dibelakangnya secara berantai. Kelima faktor itu yaitu kebiasaan, kesalahan seserorang, perbuatan, kondisi tidak aman dan kecelakaan. Menurut teori ini jika rantai penyebab tersebut di putus atau salah satu batu domino itu dihilangkan maka kecelakaan dapat dihindarkan.

Pada th. 1967 seorang ahli safety lain bernama Birds mengembangkan teori baru dengan memodifikasi teori Heinrich. Konsep dasar teori dari Birds sama teori domino yaitu kalau setiap kecelakaan disebabkan oleh lima faktor yang berurutan yaitu ; manajemen, sumber penyebab dasar, gejala, kontak, dan kerugian. Teori ini menekankan kalau manajemen memegang peran penting dalam mengurangi atau menghindari terjadinya kecelakaan. Bahkan Birds mengatakan kalau kesalahan manajemen ialah penyebab utama terjadinya kecelakaan, sementara tindakan tidak aman (unsafe act) dan kondisi tidak aman (unsafe condition) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan. Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Birds dinyatakan kalau setiap satu kecelakaan berat disertai oleh 10 kejadian kecelakaan ringan, 30 kejadian kecelakaan yang menyebabkan kerusakan harta benda dan 600 bebrapa kejadian hampir celaka. Biaya yang dikeluarkan perusahaan akibat kecelakaan kerja dengan membandingkan biaya langsung dan biaya tidak lansung yaitu 1 : 5-50 dan dapat digambarkan ibarat puncak gunung es dipermukaan laut. Yang sering terlihat dan diperhatikan dari suatu peristiwa yaitu kerugian akibat biaya pengobatan dan biaya konpensasi, sementara biaya lain yang jauh lebih besar seperti waktu investigasi, kehilangan waktu produksi, cacat produksi, menurunya tingkat kepercayaan pelanggan dsb jarang sekali menjadi perhatian manajemen perusahaan.

1. 2. Pentingnya Keselamatan Kerja.

Pada th. 2002, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea mengatakan keprihatinannya terhadap keselamatan kerja, dengan mengatakan kalau kecelakaan kerja mengakibatkan hilangnya 71 juta jam orang kerja (71 juta jam yang seharusnya dapat secara produktif digunakan untuk bekerja jika pekerja-pekerja yang bersangkutan tidak mengalami kecelakaan) dan kerugian laba sebesar 340 milyar rupiah.

Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi, DR. Ir. Erman Suparno, MBA, MSi, dalam presentasinya pada acara sosialisasi revitalisasi pengawasan ketenagakerjaan pada tanggal 1 April 2008 di kantor Depnakertrans Jakarta mengatakan kecelakaan kerja di Indonesia menempati pada urutan ke-52 dari 53 negara didunia, jumlah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sejumlah 65, 474 kecelakaan. Dari kecelakaan itu menyebabkan meninggal 1, 451 orang, cacat tetap 5, 326 orang dan sembuh tanpa cacat 58, 697 orang. Dalam kesempatan itu Menakertrans juga menyampaikan kalau tingkat pelanggaran Ketentuan Perundangan Ketenagakerjaan pada th. 2007 sebanyak 21, 386 pelanggaran.

Fakta tingginya kecelakaan kerja di Indonesia jangan di lihat sebagai takdir yg tidak biasa diubah, karena kecekaan tidak terjadi begitu saja seperti sebagian konsep terjadinya kecelakaan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Setiap kecelakaan tentu ada pemicunya. Kelalaian perusahaan yang hanya memusatkan diri pada keuntungan, dan kegagalan pemerintah dalam meratifikasi konvensi keselamatan internasional atau melakukan pemeriksaan terhadap pekerja merupakan dua hal sebagai penyebab utama besarnya tingkat kecelakaan kerja di Indonesia. Padahal sebenarnya pemerintah dan menajemen perusahaan berkewajiban melindungi dan menyediakan tempat kerja yang aman untuk pekerja agar terhindar dari kecelakaan kerja. Ada tiga alasan utama kenapa keselamatan kerja itu sangat penting yaitu :

  1. Keselamatan kerja merupakan hak yang paling dasar untuk pekerja. Setiap pekerja berhak mendapatkan perlindungan dan keamanan selama berkerja.
  2. Karena keselamatan kerja itu merupakan Hak Asasi Pekerja maka perlu dilindungi oleh Undang-Undang atau sebagian ketentuan hokum baik ditingkat nasional ataupun internasional.
  3. Tujuan perusahaan yaitu mendapatkan keuntungan, untuk mendukung tujuan itu faktor keselamatan kerja menjadi penting untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian akibat kecelakaan kerja.

1. 3. Implemetasi Safety Model PDCA

Implementasi keselamatan kerja dengan menggunakan model PDCA atau Plan-Do-Check-Action merupakan implementasi secara sistematis dengan prinsip dasar perbaikan terus menerus (continuous improvement). Model ini sebenarnya banyak digunakan di beberapa aplikasi dan bukan hanya pada program safety saja. Model PDCA dapat digunakan bilamana memulai project baru, melakukan perubahan apakah pada sistem atau sistem, ketika melakukan pengembangan atau perbaikan sistem dan bilamana melakukan perubahan apa pun.

  1. Perencanaan (Plan) ; melakukan rencana atau membuat program sesuai dengan tujuan dan permasalahan yang ada atau berdasarkan OH&S Policy. Contoh : apa major accident yang mungkin terjadi, apa penyebab atau sumber bahaya yang bisa mengakibatkan major accident itu dapat terjadi.
  2. Pelaksanaan (Do) ; melaksanakan program-program atau rencana yang sudah di tentukan pada tahap perencanaan. Tahap ini merupakan bagian paling penting karena akan melibatkan semua departemen atau divisi berkaitan. Tahapan proses ini biasanya mengacu pada sistem manajemen atau prosedur yang ada. Contoh : pelakasanaan tolok ukur untuk mengontrol bahaya (proses work permit), proses manjemen K3.
  3. Pengecekan (Check) ; memastikan kalau semua program yang sudah ditetapkan berjalan sesuai dengan rencana dan waktu yang sudah disetujui. Pengecekan dapat dilakukan dalam bentuk audit atau manejemen review. Contoh : Memastikan kalau work permit digunakan secara benar.
  4. Tindakan (Action) ; melakukan perbaikan terhadap temuan atau kekurangan pelaksanaan program yang sudah ditetapkan.

1. 4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja memiliki tujuan untuk memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau resiko yang bisa menyebabkan kesakitan dan kecelakaan dan kerugian yang mungkin terjadi. Kerangka konsep berpikir Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu menghindari resiko sakit dan celaka dengan pendekatan ilmiah dan praktis secara sistimatis (systematic), dan dalam kerangka pikir kesistiman (sistem oriented).

Untuk memahami penyebab dan terjadinya sakit dan celaka, terlebih dulu perlu dipahami potensi bahaya (hazard) yang ada, lalu perlu mengetahui (identify) potensi bahaya tadi, keberadaannya, jenisnya, pola interaksinya dan sebagainya. Kemudian perlu dilakukan penilaian (asess, evaluate) bagaimana bahaya tadi dapat mengakibatkan resiko (risk) sakit dan celaka dan dilanjutkan dengan memastikan beragam cara (control, manage) untuk mengendalikan atau mengatasinya. Langkah langkah sistimatis itu tidak berbeda dengan langkah-langkah sistimatis dalam pengendalian resiko (risk management). Oleh karenanya pola pikir dasar dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada hakekatnya yaitu bagaimana mengendalikan resiko dan tentunya di dalam upaya mengendalikan resiko itu masing-masing bidang keilmuan akan memiliki pendekatan-pendekatan tersendiri yang sifatnya sangat khusus.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang memiliki kerangka pikir yang bersifat sistimatis dan bertujuan kesistiman tadi, pastinya tidak secara sembarangan penerapan praktisnya di berbagai bidang di dalam kehidupan atau di suatu organisasi. Karenanya dalam rangka menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja ini diperlukan juga pengorganisasian secara baik dan benar. Dalam hubungan berikut diperlukan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dan perlu dimiliki oleh setiap organisasi. Melalui sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja inilah pola pikir dan beragam pendekatan yang ada diintegrasikan kedalam seluruh kegiatan operasional organisasi agar organisasi dapat berproduksi lewat cara yang sehat dan aman, efektif dan menghasilkan produk yang sehat dan aman juga dan tidak menimbulkan dampak lingkungan yang tidak diinginkan.

Perlunya organisasi memiliki sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja yang terintegrasi ini, saat ini sudah merupakan suatu kewajiban dan sudah jadi ketentuan. Organisasi Buruh Sedunia (ILO) menerbitkan panduan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Di Indonesia panduan yang sama dikenal dengan istilah SMK3, sedang di Amerika OSHAS 1800-1, 1800-2 dan di Inggris BS 8800 dan di Australia disebut AS/NZ 480-1. Secara lebih detil lagi asosiasi di setiap bidang industri didunia juga menerbitkan panduan yang serupa misalnya khusus di bagian transportasi udara, industri minyak dan gas, dan instalasi nuklir dan sebagainya sebagainya. Bahkan saat ini organisasi bukan hanya dituntut untuk memiliki sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi, lebih dari itu organisasi diharapkan memiliki budaya sehat dan selamat (safety and health culture) di mana setiap anggotanya menampilkan perilaku aman dan sehat.

1. 5. Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3)

Dasar hukum penerapan SMK3 di tempat kerja yang memperkerjakan sebanyak 100 orang atau lebih dan mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik sistem atau bahan produksi yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja seperti ledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja yaitu Undang-undang No. 1 th. 1970 mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan sebagian ketentuan pelaksanaanya yaitu :

i. Ketentuan Menteri No. Per. 05/MEN/1996 mengenai System Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

ii. Ketentuan Perundangan lainnya yang terkait dengan Ketentuan Menteri tertulis diatas.

Salah satu manfaat dari manajemen disemua tingkatan yaitu kontrol. Ada tiga faktor yang mengakibatkan kurang sebaiknya kontrol dari manjemen, yaitu :

  1. Kebijakan K3 yg tidak tepat.
  2. Program K3 yg tidak penuhi standard atau persayaratan
  3. Implementasi program yg tidak sepenuhnya di lakukan atau di dukung oleh pekerja.

Pada dasarnya program K3 meliputi beberapa hal berikut ini :

  1. Kepemimpinan dan administrasinya
  2. Manajemen K3 yang terpadu
  3. Pengawasan dan control
  4. Analisis pekerjaan dan procedural
  5. Penelitian dan analisa pekerjaan
  6. Training untuk pekerja
  7. Pelayanan kesehatan untuk pekerja
  8. Penyediaan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu safety
  9. Peningkatan kesadaran pekerja pada K3
  10. Sistem audit
  11. Laporan dan pendataan.

Dalam era industri yang penuh dengan persaingan, penerapan manajemen K3 menjadi sangat penting untuk dijalankan secara sistematis dan terarah. Pengalaman di Negara-negara lain menunjukan kalau trend suatu pertumbuhan dari sistem K3 yaitu melalui fase-fase tertentu, yaitu fase kesejahteraan, fase produktivitas kerja, dan fase toksikologi industri. Saat ini penerapan K3 di Indonesia biasanya masih berada pada fase paling bawah yaitu fase kesejahteraan. Sebagian kecil perusahaan-perusahaan besar bertaraf internasional sudah mengarah pada fase peningkatan produktivitas kerja. Misalnya program K3 yang disesuaikan dengan sistem ergonomic (penyesuaian beban kerja/alat kerja dengan kemampuan dan fisik pekerja) yang disebut salah satu usaha untuk mencetak para pekerja yang produktif.

Dalam konteks penyebab terjadinya kecelakaan akibat kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya :

  1. Faktor fisik, yang mencakup penerangan, suhu udara, kelembaban, laju rambat udara, kebisingan, vibrasi mekanis, radiasi, tekanan udara, dan sebagainya.
  2. Faktor Kimia, yakni berbentuk gas, cairan, uap, debu, asap, dan sebagainya.
  3. Faktor Biologi, baik berbentuk mikrorganisme, hewan dan tumbu-tumbuhan.
  4. Faktor Fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, dan cara kerja.
  5. Faktor mental-fisiologis, yakni susunan kerja, hubungan di antara pekerja atau dengan pengusaha, pemeliharaan kerja, dsb.

Semua sebagian faktor di atas dapat mengganggu aktivitas kerja seseorang. Misalnya penerangan yang kurang akan mengakibatkan kelelahan pada mata. Suara gaduh atau bising dapat berpengaruh pada daya ingat pekerja. Semua itu dapat menyebabkan terjadinya kecekaan kerja.

10 Panduan Cara Meningkatkan Keselamatan Kerja di Laboratorium

keselamatan kerja di laboratorium fisika

Keamanan kerja di laboratorium seharusnya menjadi salah satu prioritas kita sebagai seseorang yang melakukan kegiatan setiap harinya di laboratorium. Seorang Penanggung jawab laboratorium (Kepala laboratorium atau Manager Laboratorium) harus meningkatkan sebuah program training yang efisien, menjamin terlaksananya praktek berlaboratorium yang benar dan melakukan audit keamanan kerja untuk meminimalisasi resiko kecelakaan di laboratorium.

Banyak cara yang bisa kita kerjakan untuk meningkatkan lingkungan yang aman untuk kegiatan di laboratorium. Tak ada waktu yang lebih baik dari SEKARANG untuk mengevaluasi prosedur keamanan yang ada di laboratorium anda. Untuk Laboratorium dengan fasilitas yang lebih besar, tugas ini mungkin akan terasa lebih melelahkan dan membosankan. Berikut adalah 10 Tips Mudah yang bisa anda kerjakan untuk meningkatkan keselamatan kerja di laboratorium.

1. Dilarang Makan dan Minum di Laboratorium

Ini merupakan salah satu kebiasaan buruk yang seringkali dilakukan personil laboratorium dan sangat sulit sekali di larang. Hampir semua orang senang minum kopi atau air dingin di laboratorium. Berikut adalah keuntungan dari larangan makan dan minum di laboratorium.
Pertama, mengurangi gangguan konsentrasi. Ketika melakukan analisis yang kritis dan penting, gangguan dalam bentuk apa pun harus diminimalisasi untuk mencegah kecelakaan kerja. Dalam beragam cara, adanya makanan di laboratorium bisa memberikan gangguan ini.

Kedua, sampah makanan. Sampah makanan bisa menghasilkan kinerja yg tidak efektif karena harus membersihkan sisa makanan. Dan yang paling terpenting yaitu meningkatkan resiko kontaminasi, baik pada ruangan, produk atau analisis. Ketiga, kebijakan ini merupakan praktek yang benar dalam implementasi keamanan di laboratorium.

2. Tidak Bekerja Sendirian

Banyak kondisi yang tidak memungkinkan kita bekerja dengan orang lain atau partner. Namun, bila memang bisa diupayakan, sebaiknya analisis dilaboratorium dikerjakan bersama dengan sorang partner atau team. Dua pasang mata atau dua pasang tangan akan lebih membantu mengurangi kesalahan atau kecelakaan di laboratorium.

Kesalahan Manusia merupakan hal biasa yang pasti terjadi. Semua orang bisa melakukan kesalahan. Bekerja bersama team membangun kondisi yang baik untuk saling membantu satu sama lain. Kondisi ini dapat membantu memberikan respon yang cepat jika terjadi hal hal yg tidak diinginkan.

3. Penggunaan Label atau Tanda Peringatan

Apa pun yang memiliki resiko bahaya atau ancaman harus diberikan label/tanda yang secara visual terlihat jelas. Label/tanda harus memiliki warna yang terang, font yang tebal dan terletak di area yang bisa dilihat dengan jelas.

Seluruh bahan kimia dan larutan harus diberi label sesuai Good Laboratory Practices.
Selain itu, laboratorium juga perlu memerhatikan ancaman dari resiko bahaya kebisingan dan perlistrikan. Label/tanda bahaya terhadap ancaman kebisingan dan perlistrikan juga harus ditempel di laboratorium sama seperti ancaman bahaya yang lain.

4. Mengelola Anggaran Keamanan di Laboratorium

Mengelola anggaran merupakan hal yang penting untuk rencana peningkatan keamanan di laboratorium. Sedihnya, di Indonesia anggaran untuk pembelian alat alat yang diperlukan untuk peningkatan keamanan di laboratorium sering sekali dijadikan pilihan paling akhir.
Ketika sedang merencanakan anggaran baru atau sedang merevisi anggaran tahunan, harus di pastikan tersedia anggaran untuk membeli alat pelindung diri.

Alat Pelindung Diri yang perlu dibeli yaitu : eye wash, sarung tangan, kaca mata keamanan, pelindung telinga, masker, jas lab, sepatu safety, alat pemadam api ringan, shower dan lain lain tergantung jenis laboratorium. Bila dilihat dari sisi nilai, pembelian ini bisa terlihat sangat mahal. Namun tak ada yang lebih penting dari kesehatan, keselamatan dan keamanan personel di laboratorium. Pengelolaan anggaran yang tepat akan mereduksi biaya yang lebih besar dimasa depan.

Selain anggaran untuk pembelian perlengkapan, anggaran untuk pelaksanaan training harus diperhatikan. Diluar biaya pelaksanaan training, juga harus diperhitungkan biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan. Misalnya, karena pekerjaan yang tertunda disebabkan oleh ketidak hadiran personel yang sedang melakukan training.

5. Menyimpan bahan kimia mudah terbakar pada kabinet tahan api

Seperti yang kita sangat kita ketahui, api merupakan ancaman yang sangat berbahaya di laboratorium. Optimis kalau semua bahan kimia, solvent dan aerosol yang mudah terbakar, disimpan dalam tempat yang aman.

Masih inget dengan pemberian label/tanda bahaya di atas? Untuk membantu mengingatkan team, letakkan tanda ‘ Kembalikan Pada Tempat Yang benar ” pada area di mana biasanya bahan kimia mudah terbakar digunakan. Agar semua bahan kimia itu langsung dikembalikan ketempatnya setelah digunakan. Anda juga bisa memperhitungkan ini sebagai bagian dari inspeksi inventory yang dilakukan setiap hari.

6. Pembuatan Manual Keamanan di Laboratorium

Ketika ada karyawan yang baru masuk, biasanya perusahaan akan memberikan bahkan mewajibkan pelatihan mengenai kebijaksanaan perusahaan secara umum. Mengapa tidak melakukan hal yang sama untuk di laboratorium? Pembuatan kebijakan keamanan di laboratorium (manual keamanan) yang pasti dan mudah terkait semua kriteria dan praktik yang benar berfungsi sebagai referensi utama. Kebijakan itu juga dapat mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan.

Setelah semua team di laboratorium membaca kebijakan keamanan itu, minta mereka menandatanganinya sebagai pertanda mengerti dan akan mematuhinya. Bila ada karyawan yang secara berkelanjutan tidak mematuhi ketentuan kebijakan keamanan di laboratorium, mungkin perusahaan harus memperhitungkan untuk memberhentikan karyawan itu. Tanda tangan pada kebijakan keamanan mengatakan mereka mengetahui apa yang perlu dilakukan, termasuk tindakan legal yang didapat akibat tidak dikerjakannya ketentuan itu.

7. Lakukan pemeriksaan (audit) mendadak

Apa fungsinya kebijakan keamanan laboratorium yang baik bila tidak diperiksa pengerjaannya?
Lakukan pemeriksaan (audit) pada waktu yg tidak bisa diperkirakan sehingga memberi hasil yang lebih baik. Pada kondisi yang tidak direkayasa kita akan melihat pelaksanaan kebijakan keamanan di laboratorium sesuai kondisi aslinya.

Tak ada yang suka dengan pemeriksaan (audit) mendadak, namun ketika keamanan merupakan prioritas, hal itu harus harus dikerjakan. Setelah sering dikerjakan, audit dan training mengenai kebijakan keamanan di laboratorium pada akhirnya akan membuat kebiasaan yang baik, yang harganya akan menjadi tidak ternilai.

8. Pelaksanaan Role Play setiap hari.

Masih inget ketika dahulu di sekolah dan bagian tanya jawab merupakan kejutan yang menyenangkan?. Mungkin sewaktu kecil kita belum tahu kegunaan dari kegiatan ini.
Saat ini proses tanya-jawab itu akan kita kembangkan pada konsep yang disebut Role-Play. Satu orang akan di tanya mengenai keadaan yang mungkin terjadi dan kita lihat jawabannya, baik secara verbal atau praktek.

Pelaksanaan role play ini membuat kita siap menghadapi skenario terburuk dan membentuk kebiasaan yang baik (good habits). Bila suatu saat kejadian itu terjadi, seluruh team akan siap berdasarkan training dan pengetahuan yang sudah dimiliki. Optimis kalau semua orang sudah tahu akan Identifikasi jalan keluar darurat, area pertemuan darurat, dan penunjukan orang yang akan bertanggungjawab pada proses evakuasi.

Pemberian handout atau literature dengan peta merupakan bonus. Penanggung jawab laboratorium mungkin akan terlihat seperti terlalu paranoid, namun persiapan yang baik sudah lebih dari memenangi setengah peperangan.

9. Delegasikan Tugas

Sebagai manager atau supervisor, anda mungkin memiliki banyak tugas. Salah satu yang bisa dilakukan untuk menjamin semua berjalan dengan baik yaitu mendelegasikan beberapa pekerjaan.

Tugaskan beberapa anggota team beberapa pekerjaan khusus, sehinggan protokol keamanan laboratorium bisa dilakukan dengan lebih baik. Misalnya salah satu staff mungkin bisa diberikan tugas untuk memantau pemberian label/tanda keamanan dan seseorang lagi bisa merapihkan inventori bahan kimia. Bagikan tanggung jawab sehingga supervisor atau manager laboratorium bisa berkonsentrasi pada gambaran yang lebih besar,

10. Dorong dan promosikan keamanan di laboratorium secara personal

Tak ada yang lebih efisien dari pada pemberian motivasi positif kepada semua team di laboratorium. Keamanan di Laboratorium biasanya memang bukan bagian yang favorite. namun dengan sedikit pendekatan personal, kita bisa membuat banyak perubahan.

Pembicaraan personal yang melibatkan perencanaan, sharing pengalaman pribadi dapat membuat hal ini lebih masuk ke masing-masing pribadi dengan lebih baik. Mungkin juga bisa disharing beberapa kesalahan yang sudah terjadi untuk pelajaran. Jangan lupa memberikan humor ketika berbicara mengenai keamanan di laboratoriun, sehingga tercipta suasana yang lebih baik.

Sekilas Tentang Teori Human Error

klasifikasi human error

Perkembangan teori kesalahan manusia (human error) berkembang sangat cepat. Ada dua faktor yang berkembang dalam teori kesalahan manusia ini, yaitu pendekatan dalam mencari sebagian faktor yang bisa mengakibatkan kecenderungan manusia berbuat salah dan pendekatan dalam mencari faktor yang memperkecil terjadinya kesalahan manusia. Pendekatan pertama yaitu pendekatan analisa kesalahan (Error Analysis Approach), dimana analisa berawal dari suatu kejadian kecelakaan, lalu dilakukan analisa mundur untuk mencari sebagian faktor penyebab kecelakaan itu. Pendekatan dalam memperkecil kesalahan manusia disebut pendekatan analisa kepatuhan (compliance analysis approach), dimana analisa berawal dari analisa sebagian faktor yang bisa mempengaruhi kepatuhan manusia pada peraturan keselamatan dan bagaimana cara untuk meningkatkan kepatuhan itu.

The Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) menjelaskan kegagalan manusia dalam dua kategori, yaitu : kesalahan (error) dan pelanggaran (violation). Kesalahan biasanya terjadi karena ketidakmampuan atau ketidaksengajaan karena kelalaian atau kealpaan seseorang yang menyebabkan pada kegagalan. Sedangkan pelanggaran yaitu adanya faktor kesengajaan untuk mengabaikan peraturan sehingga terjadi kegagalan atau kecelakaan.

Kesalahan manusia pada suatu sistem dapat dipengaruhi dan distimulasi oleh training yang kurang efisien, rancangan sistem prosedur yang buruk atau konsep yang kurang matang baik pada tampilan checklist atau buku manual. Setelah itu, istilah “pilot error” yang merupakan faktor dasar yang tersembunyi harus diutamakan apabila bertujuan untuk pencegahan terjadinya kecelakaan. Human error banyak terdapat pada manusia dan itu melimpah, bukan sebagai variasi akan tetapi akibat potensinya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Error itu dalam bentuk tindakan, bicara, persepsi, pemanggilan memori, rekognisi, pengadilan, pemecahan masalah, buat keputusan, konsep formasi dsb.

Menurut HFACS terdapat dua tipe kesalahan yaitu variable error dan konstan error, dimana variable error menunujukkan potensi kesalahan dalam diri manusia yang sifatnya bervariasi, dan konstan error yaitu kesalahan yang terdapat dalam diri seseorang secara konstan dan bentuknya sama dalam dimensi tempat, lingkungan dan organisasi. Akurasi dari prediksi kesalahan sangat tergantung pada sejauh mana faktor yang mengakibatkan kesalahan dapat dipahami. Secara teori elemen yang menghasilkan kesalahan yaitu sifat alamiah pekerjaan dan lingkungan sekitarnya, mekanisme pengaturan performansi dan sifat alamiah dari individu. Konsekwensinya yaitu prediksi yang sifatnya akan menjadi probabilistik daripada ketepatan.

Kategori kesalahan manusia menurut HFACS.

Salah satu teori kesalahan manusia yang cukup terkenal yaitu teori Ramsey. Ramsey mengajukan sebuah jenis yang meneliti sebagian faktor pribadi yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Menurut Ramsey perilakukerja yang aman atau terjadinya perilaku yang bisa mengakibatkan kecelakaan, di pengaruhi oleh 4 (empat) faktor yaitu :

  1. persepsi (perception)
  2. kognitif (cognition)
  3. pengambilan ketentuan (decision making)
  4. kemampuan (ability)

Keempat faktor itu merupakan suatu sistem yang berurutan, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Apabila keempat tahapan ini dapat berlangsung dengan baik maka akan dapat terbentuk suatu perilaku yang aman.

Reason J. (1990) menjelaskan beberapa cara investigasi kesalahan manusia, yaitu :

  1. Cara naturalistic atau corpus gathering ; yaitu cara investigasi human error dilihat dari karakter alamiah manusia.
  2. Studi angket (questionare) ; yaitu menyelidiki dengan menggunakan beberapa bentuk angket yang bertujuan mengetahui respon dari individu terhadap hal yang di tanyakan.
  3. Studi laboratorium ; yaitu menyelidiki melalui eksperimen terhadap individu yang hasilnya dapat terukur dan terkontrol
  4. Studi simulator ; yaitu investigasi human error dengan menggunakan simulator berbasis komputer dengan menggunakan program software.
  5. Studi kasus ; yaitu investigasi dengan menyelidiki beragam kasus, menggalinya, dan mengkombinasikannya dengan beragam teori kesalahan, sehingga dapat membuat disain dan diharapkan dapat mengurangi kesalahan (error).

Pahami Situasi Bekerja di Ruang Terbatas (Confined Space)

Menurut H. W. Heinrich, penyebab kecelakaan kerja yang sering ditemui yaitu perilaku yg tidak aman sebesar 88%, kondisi lingkungan yg tidak aman sebesar 10%, atau kedua hal tersebut diatas terjadi secara bersamaan. Oleh karenanya, pelaksanaan diklat keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dapat mencegah perilaku yg tidak aman dan memperbaiki kondisi lingkungan yg tidak aman.

Pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja juga berguna agar tenaga kerja memiliki pengetahuan dan kemampuan mencegah kecelakaan kerja, mengembangkan konsep dan kebiasaan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, memahami ancaman bahaya yang ada ditempat kerja dan menggunakan langkah pencegahan kecelakaan kerja.

Bekerja di ruang terbatas merupakan salah satu objek pengawasan yang perlu memperoleh perhatian yang lebih dari para pengawas ketenagakerjaan karena di dalamnya terdapat resiko yang besar terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya.

Banyak kasus kematian yang terjadi dan kasus lainnya, semuanya terjadi di ruang terbatas dan disebabkan oleh sebagian faktor bahaya yang ada di dalamnya. Seperti diketahui bersama, ruang terbatas (confined spaces) mengandung beberapa sumber bahaya baik yang berasal dari bahan kimia yang mengandung racun dan mudah terbakar dalam bentuk gas, uap, asap, debu dsb.

Selain itu masih terdapat bahaya lain berupa terjadinya oksigen defisiensi atau sebaliknya kadar oksigen yang berlebihan, suhu yang ekstrem, terjebak atau terliputi (engulfment), ataupun resiko fisik lainnya yang timbul seperti kebisingan, permukaan yang basah/licin dan kejatuhan benda keras yang terdapat didalam ruang terbatas itu yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja s/d kematian tenaga kerja yang bekerja di dalamnya.

Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space)

Mengacu pengertian yang dikeluarkan oleh OSHA 1910. 146 dalam OSHA Glossary of Confined Space Terms and Definitions, dan melihat pengertian yang terdapat pada Ketentuan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 mengenai Dasar dan Pembinaan Teknis Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ruang Terbatas (Confined Space), ruang terbatas (confined space) yaitu ruangan yang :

  1. Cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya ;
  2. Memiliki akses keluar masuk yang terbatas ;
  3. Tidak didesain untuk tempat kerja secara berkelanjutan atau terus-menerus di dalamnya.

Dari pendekatan pengertian diatas dapat disimpulkan kalau ruangan terbatas yaitu suatu tempat yang memiliki konfigurasi cukup luas sehingga memungkinkan seseorang untuk bekerja di dalamnya, namun memiliki akses keluar masuk yang terbatas (manhole) dan didesain untuk pekerjaan yang sifatnya sementara (temporary).

Beberapa jenis pekerjaan yang sifatnya sementara dan dilakukan di ruang terbatas, diantaranya :

  • Pemeliharaan (pencucian atau pembersihan)
  • Pemeriksaan
  • Pengelasan, pelapisan dan pelindungan karat
  • Perbaikan
  • Penyelamatan dan memberikan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan dari ruang terbatas ; dan
  • Jenis pekerjaan lainnya yang mengharuskan masuk kedalam ruang terbatas.

Untuk memberikan deskripsi tentang ruang terbatas, berikut contoh-contoh ruang terbatas diantaranya :

  • Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler, dapur/tanur, silo dan jenis tangki lainnya yang memiliki lubang lalu orang ;
  • Ruang terbuka dibagian atas yang melebihi kedalaman 1, 5 mtr. seperti lubang lalu orang yg tidak mendapat aliran udara yang cukup ;
  • Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan struktur lainnya yang serupa ;
  • Ruangan lainnya diatas kapal yang bisa dimasuki melalui lubang yang kecil seperti tangki kargo, tangki minyak dan sebagainya

Dasar Hukum

Ketentuan perundangan yang dijadikan dasar hukum dalam melakukan pengawasan terhadap pekerjaan di ruang terbatas diantaranya Undang Undang No. 1 Th. 1970 mengenai Keselamatan Kerja, sebagai ketentuan dasarnya, dan ketentuan pelaksanaannya yang berkaitan yaitu Ketentuan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 mengenai Dasar dan Pembinaan Teknis Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ruang Terbatas (Confined Space) dan Ketentuan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 187/Men/1999 mengenai pengendalian bahan kimia berbahaya ditempat kerja.

Ketentuan tentang pengendalian terhadap bahan kimia dijadikan dasar hukum karena bekerja di ruang terbatas (confined space) memiliki resiko teracuni ataupun terbakar akibat adanya bahan kimia berbahaya yang ada didalam ruang terbatas (confined space) itu.

Petugas K3 Ruang Terbatas

Karena pekerjaan yang dilakukan di ruang terbatas (confined space) memiliki resiko/bahaya yang cukup besar maka petugas yang bekerja di ruang terbatas harus memiliki ketrampilan tertentu. Petugas itu dinamakan Petugas K3 Ruang Terbatas. Petugas K3 Ruang Terbatas (Confined Space) yaitu tenaga teknis K3 yang memiliki kompetensi khusus dibidang K3 ruang terbatas/tertutup dibuktikan dengan sertifikat pembinaan. Sertifikat pembinaan dapat diperoleh melalui sistem pembinaan teknis yang terdiri dari seleksi, diklat dan ujian dan dinyatakan lulus ujian. Seleksi dan diklat dapat diselenggarakan oleh PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja) bidang diklat atau dapat pula diselenggarakan oleh internal perusahaan (in house training) dengan kesepakatan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ujian diadakan oleh tim yang dibentuk Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau Lembaga Uji lain sesuai dengan Ketentuan Perundangan.

Petugas K3 Confined Space terdiri dari 2 (dua) tahap mencakup petugas madya dan petugas utama. Petugas madya berarti pekerja yang berjaga diluar satu atau lebih ruang terbatas yang memerlukan ijin khusus, yang bertugas mengawasi petugas utama, dan melakukan seluruh tugas petugas madya sesuai dengan program pengawasan ruang terbatas. Sedangkan petugas utama berarti pekerja yang telah diberi wewenang oleh pengurus untuk memasuki dan melakukan pekerjaan didalam ruang terbatas yang memerlukan ijin khusus.

Persyaratan K3 di Ruang Terbatas

Agar para pekerja dapat bekerja di ruang terbatas dengan aman dan nyaman, maka diperlukan adanya kriteria K3 yang harus dipenuhi, diantaranya sebagai berikut :

Bila didalam ruang terbatas diperkirakan terdapat salah satu/lebih sumber bahaya berikut :

  • Terdapat potensi gas atmosfir berbahaya,
  • Terdapat bahan (cairan atau padatan) yang potensial memerangkap pekerja atau akses keluar masuk,
  • Memiliki bentuk atau struktur yang bisa memerangkap pekerja,
  • Terdapat bahaya lain yang bisa mengakibatkan cidera seriusdan kematian maka ruang terbatas itu termasuk ruang terbatas dengan ijin khusus.

Dengan adanya ruang terbatas dengan ijin khusus maka pihak perusahaan wajib menginformasikan kepada para pekerja dengan memasang tanda bahaya atau perlengkapan lain yang efisien tentang keberadaan dan lokasi dan bahaya yang terdapat dalam ruang terbatas itu, hal semacam ini ditujukan agar tak ada orang lain/pekerja yang masuk tanpa ijin.

Kriteria yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan ijin khusus, diantaranya sebagai berikut :

  • Bila pintu masuk di buka maka pada jalur itu perlu dipasang penghalang sementara/selusur untuk mencegah masuknya pekerja tanpa disengaja dan untuk melindungi pekerja yang berada didalam dari kejatuhan benda asing dari luar.
  • Sebelum pekerja memasuki ruangan, udara didalam ruangan harus diuji terlebih dulu, berturut- turut untuk kadar oksigen, gas dan uap yang mudah terbakar dan kontaminan udara yang berpotensi berbahaya, dengan perlengkapan yang telah dikalibrasi. Setiap pekerja yang memasuki ruangan atau perwakilan pekerja itu, wajib diberi kesempatan untuk mengawasi pengujian itu.
  • Tidak boleh ada udara berbahaya dalam ruangan itu bila terdapat pekerja di dalamnya
    Harus menyediakan sistem aliran udara secara kontinyu. Pengaturan aliran udara itu harus diperoleh dari sumber yang bersih dan tidak boleh meningkatkan bahaya dalam ruangan.
  • Udara dalam ruangan harus diuji secara berkala sesering mungkin untuk memastikan kalau pengaturan aliran udara dapat mencegah akumulasi udara yang berbahaya dalam ruangan.

Pengurus wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan dinyatakan oleh dokter pemeriksa kesehatan kerja kalau petugas itu tidak mempunyai riwayat :

  • Sakit sawan atau epilepsi
  • Penyakit jantung, penyakit asam urat atau gangguan jantung
  • Asma, bronchitis atau sesak napas jika kelelahan
  • Gangguan pendengaran
  • Sakit kepala seperti migrain maupun vertigo yang bisa mengakibatkan disorientasi
  • Klaustropobia, atau gangguan mental lainnya
  • Gangguan atau sakit tulang belakang
  • Kecacatan penglihatan permanen

Penyakit lainnya yang bisa membahayakan keselamatan selama bekerja di ruang terbatas
Bila pekerja akan memasuki ruang terbatas untuk melakukan suatu pekerjaan, diperlukan alat pelindung diri (APD) sebagai berikut :

  • Respirator (alat bantu pernafasan)
  • Safety harness (tali pengikat tubuh agar tidak jatuh)
  • Sepatu safety (sepatu terstandard)
  • Safety helmet (penutup kepala/topi terstandard)
  • Safety gloves (sarung tangan terstandard)

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan

Pengertian kerja tambang yaitu setiap tempat pegawaian yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan pegawaian penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk fasilitas dan sarana penunjang yang ada diatas atau di bawah tanah/air, baik ada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.

Yang disebut kecelakaan tambang yaitu :

  1. Kecelakaan Benar Terjadi
  2. Membuat Cidera Pegawai Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh KTT
  3. Akibat Kegiatan Pertambangan
  4. Pada Jam Kerja Tambang
  5. Pada Wilayah Pertambangan

Penggolongan Kecelakaan tambang

  1. Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
    Korban tidak dapat melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
  2. Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
    Korban tidak bisa melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu.

Berdasarkan cedera korban, yaitu :

  1. Retak Tengkorak kepala, tulang punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki
  2. Pendarahan didalam atau pingsan kurang oksigen
  3. Luka berat, terkoyak
  4. Persendian lepas

Perbuatan membahayakan oleh pegawai mencapai 96% diantaranya berasal dari :

  1. Alat proteksi diri (12%)
  2. Posisi kerja (30%)
  3. Perbuatan seseorang (14%)
  4. Perkakas (equipment) (20%)
  5. Alat-alat berat (8%)
  6. Tatacara kerja (11%)
  7. Ketertiban kerja (1%)

A. Tindakan Setelah Kecelakaan Kerja

Manajemen K3

  1. Pengorganisasian dan Kebijakan K3
  2. Membangun Target dan Sasaran
  3. Administrasi, Dokumentasi, Pelaporan
  4. SOP

Prosedur kerja standard yaitu cara melaksanakan pegawaian yang ditentukan, untuk memperoleh hasil yang sama secara paling aman, rasional dan efektif, meskipun ditangani siapapun, kapanpun, di manapun. Setiap pegawaian Harus memiliki SOP agar pegawaian bisa dilakukan secara benar, efektif dan aman.

Dasar Ketentuan K3 Tambang
1. Ruang Lingkup K3 Pertambangan : Wilayah KP/KK/PKP2B/SIPD Tahap Eksplorasi/Eksploitasi/Kontruksi & Produksi/Pengolahan/Pemurnian/Sarana Penunjang
2. UU No. 11 Th. 1967
3. UU No. 01 Th. 1970
4. UU No. 23 Th. 1992
5. PP No. 19 Th. 1970
6. Kepmen Naker No. 245/MEN/1990
7. Kepmen Naker No. 463/MEN/1993
8. Kepmen Naker No. 05/MEN/1996
9. Kepmen PE. No. 2555 K/26/MPE/1994
10. Kepmen PE No. 555 K/26/MPE/1995
11. Kepmen Kesehatan No. 260/MEN/KES/1998
12. Kepmen ESDM No. 1453 K/29/MEM/2000

Contoh dan Aplikasi K3
Alat Proteksi Diri (APD) yaitu kelengkapan yang harus berfungsi saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pegawai itu dan orang disekitarnya. Kewajiban itu telah disetujui oleh pemerintah lewat Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia Ada beberapa peralatan yang berfungsi untuk melindungi seorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang kemungkinan dapat terjadi. Perlengkapan ini harus berfungsi oleh seseorang yang bekerja, seperti :

1. Pakaian Kerja
Tujuan penggunaan pakaian kerja yaitu melindungi tubuh manusia pada pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.

2. Sepatu Kerja
Sepatu safety (safety shoes) yaitu perlindungan pada kaki. Setiap pegawai perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal agar bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja agar kaki tidak terluka apabila tertimpa benda dari atas.

3. Kacamata kerja
Kacamata berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang berterbangan di tiup angin. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pegawaian yang memerlukan kacamata yaitu mengelas.

4. Sarung Tangan
Sarung tangan begitu diperlukan untuk beberapa jenis pegawaian. Tujuan utama penggunaan sarung tangan yaitu melindungi tangan dari benda-benda keras dan mengangkat barang berbahaya. Pegawaian yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak secara terus menerus bisa menyebabkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobak.

5. Helm
Helm sangat penting digunakan sebagai proteksi kepala dan telah yaitu kewajiban untuk setiap pegawai untuk menggunakannya dengan benar sesuai sama ketentuan.

6. Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1, 8 meter.

7. Penutup Telinga (Ear Plug/Ear Muff)
Berfungsi sebagai proteksi telinga pada saat bekerja ditempat yang bising.

8. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja ditempat dengan kualitas udara buruk (contoh berdebu, beracun, dan lain-lain).

9. Proteksi wajah (Face Shield)
Berperan sebagai proteksi wajah dari percikan benda asing saat bekerja (contoh pegawaian menggerinda)

B. Sistem manajemen k3 di pertambangan

Manajemen resiko (risk Management) Pertambangan yaitu satu sistem interaksi yang digunakan oleh perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya di tempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dan lain-lain. Jadi, manajemen resiko (risk Management) yaitu suatu alat yang apabila berfungsi dengan cara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman, bebas dari ancaman bahaya ditempat kerja.

Mengenai Aspek Kemungkinan yang sering didapati pada Perusahaan Pertambangan yaitu longsor di pertambangan biasanya datang dari gempa bumi, ledakan yang terjadi di dalam tambang, dan kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal semacam ini bisa juga disebabkan oleh tak ada pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.

Kontrolling resiko diperlukan untuk mengamankan pegawai dari bahaya yang ada di tempat kerja sesuai sama kriteria kerja Peran penilaian resiko dalam kegiatan pengelolaan diterima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat step sistem pengelolaan resiko manajemen resiko (risk Management) yaitu sebagai berikut :

  1. Identifikasi resiko yaitu mengidentifikasi bahaya dan kondisi yang berpotensi mengakibatkan bahaya atau kerugian (terkadang disebut ‘kejadian yang tidak diinginkan’).
  2. Analisa resiko yaitu menganalisis besarnya resiko yang mungkin timbul dari peristiwa yg tidak diinginkan.
  3. Kontrolling resiko yaitu memutuskan langkah yang pas untuk mengurangi atau mengatur resiko yang tidak bisa diterima.
  4. Mengaplikasikan dan memelihara kontrol aksi yaitu menerapkan kontrol dan meyakinkan mereka efisien.

Manajemen resiko (risk Management) pertambangan diawali dengan melakukan identifikasi bahaya untuk tahu aspek dan potensi bahaya yang ada yang akhirnya nanti sebagai bahan untuk dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya diawali dengan membuat Standar Operational Procedure (SOP). Lalu sebagai langkah analisa dikerjakanlah observasi dan inspeksi. Setelah dianalisa, tindakan setelah itu yang perlu dikerjakan yaitu pelajari resiko untuk menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau kontrolling resiko.
Kegiatan kontrolling resiko ini ditandai dengan menyediakan alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang bertanggungjawab sebagai pengawas. Setelah ditangani kontrolling resiko untuk aksi pengawasan yaitu dengan melakukan monitoring dan peninjauan lagi bahaya atau resiko.

Peran K3 sebagai salah satu sistem program yang di buat untuk para pekerja maupun pengusaha, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi sebuah usaha preventif akan munculnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat interaksi kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengetahui penyebab yang berpotensi bisa menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan aksi antisipatif jika terjadi hal demikian.

Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan menyebabkan kerugian ekonomi (lost benefit) sebuah perusahaan, kerugian pada seorang pekerja, bahkan kerugian pada Negara. Oleh karenanya kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola dengan cara yang maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi semua orang-orang khusunya orang-orang pekerja di pertambangan itu guna meminimalisir segala kerugian yang bisa terjadi.